Manusia yang Dicinta
untuk mimpi setiap orang yang tak kunjung padam:

>kak, buatkan puisi!
>hanya untukku saja, ya…

karena pagi tadi,
>aku bermimpi tentang bintang terang itu…

>dan bukannya kakak pernah bilang, ya:
‘setiap bintang memiliki cahayanya sendiri’

>lalu, bintang kita yang mana, ya?
<ya, yang jelas, bukan yang sebelah selatan itu kan?

<karena kita akan lekas menjelang dinginnya angin utara*..
dan bintang di utara selalu berwarna kemerah-merahan..
dan tak akan pernah kunjung padam…

April – einundzwanzig
*buat unang-

Pagi ini kutulis lagi igauan
untukmu sendiri,
sambil aku terus berfikir
tentang kelahiran sebuah generasi
atau tentang kondisi ummat ini
yang tak kunjung berhenti
menganiaya dirinya sendiri

di sini,
tentu ada sekumpulan lagi
orang-orang yang masih memiliki cita itu
bergerak, taat, lalu berusaha
sepenuh hati melalui jalan-jalan ini

kadang kita terlalu sempit memandang dunia ini,
itu buktinya:
engkau masih saja mendengarkan
kokok-kokok ayam di belantara sana,
sementara angin-angin dingin itu
mulai meninggalkan jejak-jejak
menggigil di tubuh adik-adik kita…

tentu, kita bukan menara gading
di tengah kondisi yang semakin
tak membaik…
maka, bertahanlah sebentar di sini,
karena engkau baru saja sampai,
belum pula kau selesai pula mendengarkan
ceritaku tentang utopi-utopi itu:
tentang pusat cahaya, tentang
imaji komuniti, atau tentang ladang-ladang
yang belum kita rawat sejak dini lalu…

apalagi lagi yang kau ingin cari…
cuma uang setumpuk senti itu?
atau hanya angan orang kebanyakan:
berladang, atau kaujual tenagamu
untuk sekedar sebuah pengakuan:
bahwa kau memang orang yang mampu
lulus kualifikasi…

pertanyaan selanjutnya,
kukira masih satu tema:
maukah engkau tetap berjalan
denganku hingga nanti?

dan untuk pertanyaan ini,
kurasa biar waktu yang menjawabnya
sendiri…

Kapitalisme terbukti gagal. Dia terbukti hanya meninggalkan kegamangan berupa ekonomi-ekonomi balon yang dari hari ke hari semakin menggelembung?

Bagaimana kegagalan kapitalisme?

kita lihat di posting selanjutnya….

Dari Sebuah Kesadaran

Ada sesuatu yang kadang aku lupa syukuri ketika itu. Ketika aku memulai menggambar masa depan pascasekolah menengah. Ketika tidak lagi menjadi siswa dan akan beranjak memasuki dunia baru yang aku sendiri sama sekali belum mengenalinya. Dunia itu bernama kampus.

(more…)

Menjadi Intelektual

Menjadi intelektual adalah sebuah keharusan, bahkan menjadi kewajiban. Bagi kita, yang sudah terlanjur masuk ke dalam sebuah arus transformasi struktural. Mengapa? Sebab, intelektualitas kemudian menjadi bahasa lain pengakuan dan penguasaan ilmu pengetahuan sekarang. Pada era di mana kemapanan intelektualitas sudah sedemikian menjadi seiring makin menetapnya dominasi knowledge era.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah seberapa signifikan, besar, ataupun kuatkah pengaruh intelektualitas yang kita miliki untuk dapat mengubah dan me’revolusi’ kehidupan dan tatanan masyarakat. Hal tersebutlah yang seharusnya menjadi pertanyaan besar, sedemikian besar, sampai kemudian kita selalu berfikir tentangnya, bahkan jauh sebelum berfikir bagaimana menjadi intelektual.
Maka, mungkin langkah itulah yang kemudian menginspirasi Natsir, seorang ulama sekaligus cendekiawan muslim terbaik di zamannya, tatkala memutuskan untuk tidak mencari gelar sarjana hukum di Belanda. Di kala itu, pencapaian tersebut menjadi banyak impian dan idaman para tamatan AMS di Bandung. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk merintis pendidikan Islam mulai dari kota tersebut (Mengenang 100 tahun M. Natsir: Berdamai dengan Sejarah). Itulah salah satu dari sebenar-benarnya intelektual.
Di sisi lain, menjadi intelektual sebenarnya secara substansi adalah bagaimana membentuk pola pikir yang benar. Bebas dari segala kontaminasi pragmatisme yang mematikan. Mereka –kaum intelektual tersebut– harus jernih memandang masalah. Sebab, di tangan merekalah kebenaran dan kebijaksanaan negeri ini dipertahankan. Bukan malah melacurkan diri menjadi ‘pion-pion’ kekuasaan atau pilar legitimasi penjajahan,korporasi yang kata Amien Rais disebut dengan sebagai praktek intellectual prostitute.
Tatkala itu terjadi, berkacalah kita. Seberapa berat tanggung jawab yang sebenarnya kita emban ketika melacurkan intelektualitas tersebut. Tak cukup sebatas kata tentunya, tetapi pasti ada pembuktian panjang. Nanti. Sebentar lagi. Ketika kita menjadi bagian dari selapis baru intelektual negeri ini. Melacurkan diri atau tidak sama sekali, sekaligus paham konsekuensinya. Hilang, terancam, termarginalisasi, bahkan dilupakan oleh sejarah bangsa sendiri.

-teriring doa:
semoga menjadi golongan orang-orang yang diberikan hikmah,
bukan sekedar seonggok ilmu pengetahuan-

***kumpulan puisi***

Benarkah Cinta?
16/10/2008

Rinduku di Penghujung Hari
4 Oktober 2008:
08.00-10.00

Untuk Cinta
4 Oktober 2008:
08.00-10.00

Bertemu Cinta
4 Oktober 2008:
08.00-10.00

Untuk yang Selalu Kami Cintai:
2/08/08

(more…)

Optimalisasi Penyaluran Kredit Usaha Rakyat bagi Pembiayaan UMKM*

Optimisme pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah optimisme membangun kembali perekonomian bangsa yang lebih kokoh. Praktis, pascakrisis ekonomi yang melanda negeri ini di tahun 1997, ketika korporasi-korporasi nasional mengalami masalah keuangan yang sangat akut, maka tidak ada lagi kekuatan besar yang menjadi penggerak perekonomian nasional. Hanya UMKM yang kemudian muncul sebagai sebuah kekuatan baru yang menopang perekonomian Indonesia.

(more…)

sudah lama aku ingin bercerita ini, kawan!
tentang perjalanan kemarin,
di teriknya ufuk juli...

tentang pertemuan kita di siang sampai sore itu..
atau kayuh kita di atas sepeda motor tuamu.
menyusuri sudut kota, masjid tua,
sambil terus mencicipi makanan yang tersedia

bahkan mungkin, ulasan cerita engkau
yang bincangkan temanmu itu,
si bendahara rohis di masa pendarmu dulu...

...yang oleh-olehnya kugenggam erat
sebelum kubagikan sesuai amanahmu...

::
benar kawan, kalau engkau tak percaya
niat awal perjalanan itu, hanya untuk melangkahkan kaki..
ke istanamu..
Itu..
yang selalu kau banggakan itu
yang tiangnya adalah cikal tiang peradaban
dan atapnya adalah payung kemenangan 

percayalah!
bukan ke kota apel itu,
walaupun hawanya hampir meremukkan ujung jariku
dan indahnya tetap memukau mataku...

::
lalu biarlah,
aku ambil selaksa hikmah dari perjalanan
semasa itu..
tentang bayangan bidadari di bus kota
atau elegi ukhuwwah yang tak kan pernah kita lupa
bahkan cerita bersama teriakan dari 'dewi andika',
bahwa pribumi harus dan pasti bisa berjaya

::
dan pasti kita telah belajar banyak..
dari jemuran padi kuning di teras rumahmu
atau begitu bersahajanya rumah dan kamarmu
semua itu, akan mengukuhkanku;
bahwa peradaban akan diusung oleh orang-orang
yang memahami
bahwa hidup sangatlah sederhana,
dan haruslah diisi oleh orang-orang yang
luar biasa!
mungkin seperti kita: semoga!

::
lalu percayalah,
bahwa setiap perjalanan selalu memberi banyak energi
untuk sekedar melihat,
bahwa hidup bukanlah mati yang bergerak
atau berjalan tanpa rasa,
dari pelarian panjang kuliah
yang begitu tergesa di waktu itu.
karena kau pasti akan tahu...
di akhir perjalanan itu
Aku memeluk ibumu begitu erat
sama seperti ketika aku kembali ke halamanku
ketika ibuku menyambutku dengan begitu hangat,
sampai kadang tak kusadari
bahwa aku sendiri bukan kanak-kanak kemarin sore.

::
dan akhirnya, malam ini kita merajut
mimpi kita sendiri...
tentang impian neo lintang,
atau tentang impian peradaban
yang dulu sering kita bincangkan
di penghujung malam:
haruskah kita yang menjadi pilar?
atau lalu..
tentu kita tidak hanya menumpang, bukan?
kita harus jadi bagian dari kejayaan negeri
dan ummat ini...

::
lalu esok pagi,
Aku yakin, kitalah yang memulai kembali!
bersama membangun
di generasi baru ekonom terbaik ummat ini...

Ah.. mudah-mudahan engkau tidak menghilang lagi!

jombang-malang-madiun,
di medio Juli 2008
-written in Depok,2rmdhn1429-

Sabtu, 23 Agustus 2008

pagi yang luar biasa segar…

ketika kami bisa memulai sebuah hari dengan pemikiran baru, (more…)

Akan Cinta yang Belum Bernama

kata teman:

Cinta itu masih belum bernama…

tapi aku mengelak,

mungkin sudah,

tapi nun jauh di sana,

entah di ufuk barat pulau bernama itu…

kata ibu:

luluskan dulu sekolahmu itu…

tapi aku meyakinkannya,

mungkin harus ditumbuhkan dulu,

siapa tahu janji itu akan benar-benar bertemu,

pada suatu pagi,

tepat suatu ketika,

aku menemukan sebuah teori ekonomi baru…

kata kolega:

urus dulu bisnismu itu…

tapi saya balik menentang,

siapa kamu?

berani-berani mengatur hidupku

uruslah bagianmu itu dulu,

yang belum selesai dari dini lalu…

tapi Tuhan terlalu bijak untuk berfirman,

sampai aku tak dapat lagi berkata-kata…

akan Cinta yang belum bernama,

Dia selalu mengingatkanku,

Aku yakini itu…

tinggal kuatkan segenggam niat,

kepalkan sedikit keberanian,

lalu kuucapkan itu

di depan seseorang yang selalu kau banggakan

yang peluhnya selalu jadi tempatmu bernaung…

Ya!

lalu Cinta menjadi bernama…

segera pada suatu ketika itu,

ku kan coba membuat rindu,

untuk satu hatimu,

yang tak pernah jemu

Biar kucinta selalu…

-notes-

.:tuk seorang doktor ilmu ekonomi di masa mendatang:.

‘kau harus mengerti, cinta tak kan pernah

menghalangi seseorang tuk mengejar takdirnya’

-paulo coelho-

Next Page »