Kemarin (Rabu,28/3/2007) baru saja selesai baca novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan (terbaik) Indonesia dan satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah mendapatkan nominasi nobel dunia dalam bidang sastra. Novel berjudul Bumi Manusia itu sendiri ternyata merupakan tetralogi (4 novel yang saling terkait), berurutan dari novel yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Tidak ada muatan yang spesial dalam novel itu, (menurut saya sebelumnya) sampai-sampai pemerintah Indonesia di zaman Orde Baru harus melarang peredarannya di negeri ini. Sampai suatu malam, ba’da salat maghrib @lantai asrama tercinta, saya berdiskusi dengan teman satu lantai yang ‘ilmu’-nya tentang dunia sastra atau per-novel-an lebih tinggi dari saya (yang memang tidak mengerti sama sekali tentang dunia novel). Kurang lebih seperti ini dialognya:
“Ki, tadi saya habis baca novel Pram. Luar biasa ceritanya. Bagus banget,“ kataku.
“Iya, bener ya. Kita kayak kebawa alur ceritanya, ya,” balasnya menimpali.
“Tapi kenapa ya, ki, novel kayak gitu dilarang beredar di Indonesia. Padahal kan ceritanya bagus. Ceritanya itu kan tentang sejarah Indonesia juga, terutama sebelum kemerdekaan,”
“Memang sich, ada beberapa penggalan cerita dalam novel tersebut yang melanggar etika ke-Indonesia-an terutama jika dikaitkan dengan konteks pada zaman itu. Tapi lagi-lagi itu, bukan alasan yang tepat, kukira, untuk melarang peredaran sebuah novel ”kata saya melanjutkan.
“Kalau menurut saya, bukan itu sich sebenarnya yang membuat novel itu menjadi dilarang, tapi makna dan pesan tersirat yang ada di dalamnya,“ jawab teman saya.
“Terus,” lanjutnya. “Coba dech dilihat secara global. Itu kan novel tetralogi. Jadi ceritanya saling terkait. Ceritanya itu mulai dari zaman pra-kemerdekaan Indonesia sampai Indonesia merdeka. Tokoh utamanya juga masih tetap itu-itu juga, si Minke.”
“Nah yang jadi soal itu adalah pesan-pesan moril yang terkandung secara tersirat maupun tertulis langsung di novel itu. Coba dech direnungi lagi, fren. Terutama kata-kata terakhir dalam novel itu. Kita telah melawan, nak, Nyo, dengan sebaik-baiknya, dengan sehormat-hormatnya. Gitu kalo ga salah ya,” teman saya itu melanjutkan panjang lebar.
“Dikit nyambung, Ki. Itu kan berarti tentang perlawanan. Kita harus melawan sesuatu yang telah ada dan tidak sesuai dengan nurani kita,” Saya balas menimpali.
“Betul, bro. Itulah pesan sesungguhnya. Orde baru itu gak mau kalo banyak pemuda or mahasiswa yang membaca novel itu, kemudian timbul semangatnya untuk mengkritisi, untuk membela dan melawan kebijakan penguasa yang gak sesuai dengan nurani mereka. Nah, makanya novel itu dilarang,” dia melanjutkan lagi.
“Terakhir fren, bahasa sastra itu memang susah untuk ditafsirkan. Tetapi begitu pesannya nyambung ke pembaca, maka secara langsung pesan itu akan menimbulkan dorongan bagi yang baca untuk bertindak dan pesan-pesan itu biasanya akan tertanam terus di hati pembaca. Apalagi novel Pram itu, pas tahun 1970-an aja udah dapet penghargaan banyak dari mana-mana. Otomatis itu akan mengundang banyak generasi muda kita untuk ikut-ikutan baca. Akhirnya, berubahlah semua”, ujarnya mengakhiri dengan (tampak) bijaksana.
jadi inget..aku belon baca lanjutannya!! baru bumi manusia. Awalnya tuh pas kkn g da bacaan laen selaen buku itu,punya temen kknq yg anak filsafat,hehehe….(jadi awalnya mo baca bukan karena tertarik spt klo mo baca harry potter,hehe..:-D)
Pa lagi aku nief, ak jg g habis pikir awalnya, kenapa novel2 pak Pram g boleh beredar dl?Dan jawaban temenq yg pny bk itu kurang lebih sama kayak temenmu, semangat perlawanan yang tersirat dari novel itu yg berbahaya menurut rezim orde baru yg saat itu berkuasa.
well, inti dari komenq ini adalah…..thanks ya nief dah diingetin, ternyata aku belon selese baca ceritanya minke (^-^)/ (sms temenq ah mo minjem lanjutannya *g modal)
Comment by fitri — February 4, 2008 @ 8:23 am |
Assalamu’alaikum
nif,, emang beda bacaan calon ketua BEM FEUI yg diusung partai FSI hehe….
Sukses terus nif,,,
Comment by haris — February 12, 2008 @ 11:58 am |
Mas, Bumi Manusia dikagumi sampai di luar negeri…baca blog saya mengenai kekaguman dia setelah membaca Bumi Manusia. Lihat:
http://firdausamyar.wordpress.com/
Teman saya itu padahal salah seorang Executive Director ANAO (Australian National Audit Office)
Salam kenal
Comment by firdausamyar — March 1, 2009 @ 5:22 am |