Ya, ini adalah beberapa pengingatan dari waktu yang bernama lalu (baca: masa lalu)
Sekedar sebuah pengingatan bahwa hidup haruslah bergelombang, terombang-ambing, lalu kembali tenang…
Selamat jalan masa lalu! kami akan selalu mengenangmu, dan menjadikanmu pelajaran, untuk kami dan orang-orang yang datang kemudian…
Masa lalu juga fragmen. Potret diri kita, yang kita akan pertanggungjawabkan kelak dihadapan-Nya.
Jadi inget, kata-kata di theme song-nya doraemon:
“Kita hidup di bumi ini, hari ini, esok, dan seterusnya…”
Kami menamainya sebagai:
kumpulan episode Kaf-Ha-Ya-‘Ain-Shod *
Episode kaf – sebuah pengingatan
“Hanya orang yang tegar di jalan dakwah yang akan merasakan kenikmatan perjuangan dan mendapatkan kemuliaan. Semoga Allah menghunuskan kesabaran ke rongga dada kita dan menyuburkan hati kita dengan limpahan iman. Kapan bergerak lagi?”
-teriring ucapan saya kepada pengirim pesan ini ‘v’: afwan, kalau amanah ini tidak sanggup saya emban maksimal. terlalu banyak hal yang membuat saya merasa bingung untuk mengoptimalkan amanah itu (disorientasi bahasa kerennya). mudah-mudahan ini tidak membuat kecewa. percayalah, kalau saya tidak sanggup menjalankan amanah, biarlah Allah SWT menggantinya dengan seseorang yang lebih baik lagi-
10 maret 2007, 21.00.40
“Amanah adalah sesuatu yang berat. Yang membuatnya berat adalah pertanggungjawabannya di hadapan Allah dan kerugian yang ditanggung orang sekitar karena kita melalaikan hak mereka. Gimana amanah …. kita? Afwan kalau selama ini ana mendzalimi atau berbuat salah sama antum. Mari hidupkan … kembali”
-tidak ada yang salah dengan bintang, yang salah adalah siang yang terlalu terang untuk sang bintang. pola komunikasi itu kuncinya. saya merasa tidak dapat membangun pola komunikasi yang baik dengan semuanya (ketika itu), termasuk pengirim pesan tsb-
Episode ha – sebongkah integritas
Hanif, assalam. Aku stress banget nich, gak ada yang bantuin aku dan aku gak bisa trace back data-data penerimaan yang … juta itu sendirian. … gak bisa dihubungin, aku pengen banget selesai besok. Gimana ya hanif? Maap kalau aku cengeng, tapi aku bener-bener butuh bantuan orang ini. 07.18 pagi 2 september 07
-sambutan pertama ketika menerima sms ini: ini orang “hongkong” [mengutip bahasa ‘dede’] banget sich. tapi sesaat setelah itu bisa langsung berfikir rasional, langsung telepon beberapa teman buat bantuin dan jawabannya gak bisa semua… ting! gubrak… in the end, sebagai seseorang yang merasa sangat bertanggung jawab terhadap hal tersebut, akhirnya dengan ber”senang” hati datang ke sana, menawarkan diri, apa yang bisa di bantuin. comment: orang seperti ini cuma butuh diyakinkan n di…… (,sebenarnya), untuk melakukan sesuatu-
Episode ya – sepotong pengakuan
Assalam, nif. Syukron atas undangannya. Antum sudah berhasil menjadi pemimpin yang sukses, yang mampu memanage 2 amanah dengan balance. DKFE pasti selalu butuh dengan orang-orang seperti antum”
25/9/07 20.18.30
-hmm… baru sekali ini orang seperti dia memuji-muji dan sekali memuji berlebihan lagi. tapi baguslah, paling tidak masih punya sisi hati untuk memuji orang lain… hehe. no offense, n gue suka gaya loe (yang di luar pakem itu)!-
Episode ‘ain – di ufuk tantangan
“Orientasi _ _ _ _ apa? Konkret external apa? Lantas kalau internal apa yang bisa diperbuat _ _ _ _ kalau ada ‘saudara’nya yang ip-nya rendah? …”
6 nov dua ribu tuju 18.57
“politik adalah kereta untuk sampai tujuan. gerbongnya adalah …., …., relnya adalah …….., masinisnya adalah keimanan. Jangan sampai kita mogok karena kita. keep fight” 24.12.07
-sungguh menampar kata-katanya, tapi memang seperti itulah kenyataannya. kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain merencanakan program yang hanya bergerak di lingkaran obat nyamuk yang terus berputar makin ke dalam. teman diskusi yang luar biasa, mulai dari islamic economics sampai political in economy. sekarang, ia sedang membuktikan sendiri, bahwa peran menentukan kontribusi dan apa yang akan dikontribusikan. semangat teman! anda orang hebat! koleris mutlak yang mungkin akan jarang ditemui kecuali di dunia lain (mungkin).
Episode shad – ceracau keputusan
tiga belas januari nol delapan
“perubahan yang dipompa oleh raihan jabatan akan berhenti seiring dengan tercapainya jabatan itu. pemimpin yang menjadikan uang sebagai motivasi, akan berhenti melakukan perubahan saat uang sudah digenggam. Para pemimpin yang menjadikan ‘keinginan melakukan kebaikan’ sebagai motivasi, takkan berhenti menabur kebaikan sebab kebaikan tak terbatas dan tak pernah habis. tetap istiqomah!”
-dahsyat lu, prendz! tapi sayang, kita mungkin belum ditakdirkan untuk bekerja dalam satu tim di masa ini, mungkin nanti… (pengulangan masa lalu itu saya yakin akan terjadi) setelah semuanya selesai dan kita akan banyak berceracau tentang hitam, merah, dan biru jalan ini…-
“well, ok! Just prove it, hanif! Then we’ll see it whether you really a great leader or not!”
13/1/08
-ini tantangan, dan saya harus menghadapinya! ujar saya ketika itu. selanjutnya: keren juga orang kayak gini. cukup menimbang dengan berani atau tidak, lalu kerjakan atau tinggalkan. tapi sebenarnya saya punya prinsip: hidup bukan sekedar berkata ‘katakan hitam adalah hitam, katakana putih adalah putih’, ada kebijaksanaan yang kita cari dan ada negoisasi yang kita harus sepakati (hehe, kata-katanya orang yang phlegmatis banget. Ya kan?). begitu seharusnya kan ya? (frasa ‘kan ya?’ meniru gaya felix siauw)-
“saya percaya hanif punya kapasitas sebagai pemimpin walaupun bukan itu tempatnya, semoga semua bisa diambil hikmahnya, tetap semangat ya untuk _ – _ – _ – _ – _ – _ di tempat ini dan di masa depan” 7/2/08.21:18
-gaya orang melankolis (saya kira), menyentuh dan berusaha memberi arti. bagus! cukup menghibur ketika itu, terlebih dalam keadaan tertekan (yang amat sangat) di momentum itu-
akhirnya, kita akan menyadari, sampai di sebuah titik yang disebut dengan instrospeksi. untuk terbang, melayang, dan mungkin takkan hinggap lagi.
sampai nanti, entah…
ketika kita nantinya menjadi “diri sendiri”
menjadi dirimu sendiri, sebaik-baik dirimu
-quote from file ‘end.doc’-
* inspired by surat maryam, yang menjelaskan fragmen kehidupan orang-orang sholeh
