zoelzul

September 4, 2008

Narasi lalu, untuk seorang teman

Filed under: sastra — zoelzul @ 5:24 am
sudah lama aku ingin bercerita ini, kawan!
tentang perjalanan kemarin,
di teriknya ufuk juli...

tentang pertemuan kita di siang sampai sore itu..
atau kayuh kita di atas sepeda motor tuamu.
menyusuri sudut kota, masjid tua,
sambil terus mencicipi makanan yang tersedia

bahkan mungkin, ulasan cerita engkau
yang bincangkan temanmu itu,
si bendahara rohis di masa pendarmu dulu...

...yang oleh-olehnya kugenggam erat
sebelum kubagikan sesuai amanahmu...

::
benar kawan, kalau engkau tak percaya
niat awal perjalanan itu, hanya untuk melangkahkan kaki..
ke istanamu..
Itu..
yang selalu kau banggakan itu
yang tiangnya adalah cikal tiang peradaban
dan atapnya adalah payung kemenangan 

percayalah!
bukan ke kota apel itu,
walaupun hawanya hampir meremukkan ujung jariku
dan indahnya tetap memukau mataku...

::
lalu biarlah,
aku ambil selaksa hikmah dari perjalanan
semasa itu..
tentang bayangan bidadari di bus kota
atau elegi ukhuwwah yang tak kan pernah kita lupa
bahkan cerita bersama teriakan dari 'dewi andika',
bahwa pribumi harus dan pasti bisa berjaya

::
dan pasti kita telah belajar banyak..
dari jemuran padi kuning di teras rumahmu
atau begitu bersahajanya rumah dan kamarmu
semua itu, akan mengukuhkanku;
bahwa peradaban akan diusung oleh orang-orang
yang memahami
bahwa hidup sangatlah sederhana,
dan haruslah diisi oleh orang-orang yang
luar biasa!
mungkin seperti kita: semoga!

::
lalu percayalah,
bahwa setiap perjalanan selalu memberi banyak energi
untuk sekedar melihat,
bahwa hidup bukanlah mati yang bergerak
atau berjalan tanpa rasa,
dari pelarian panjang kuliah
yang begitu tergesa di waktu itu.
karena kau pasti akan tahu...
di akhir perjalanan itu
Aku memeluk ibumu begitu erat
sama seperti ketika aku kembali ke halamanku
ketika ibuku menyambutku dengan begitu hangat,
sampai kadang tak kusadari
bahwa aku sendiri bukan kanak-kanak kemarin sore.

::
dan akhirnya, malam ini kita merajut
mimpi kita sendiri...
tentang impian neo lintang,
atau tentang impian peradaban
yang dulu sering kita bincangkan
di penghujung malam:
haruskah kita yang menjadi pilar?
atau lalu..
tentu kita tidak hanya menumpang, bukan?
kita harus jadi bagian dari kejayaan negeri
dan ummat ini...

::
lalu esok pagi,
Aku yakin, kitalah yang memulai kembali!
bersama membangun
di generasi baru ekonom terbaik ummat ini...

Ah.. mudah-mudahan engkau tidak menghilang lagi!

jombang-malang-madiun,
di medio Juli 2008
-written in Depok,2rmdhn1429-

5 Comments »

  1. pribumi memang pasti bisa berjaya. insya Allah :grin:

    Comment by agungfirmansyah — September 4, 2008 @ 3:51 pm | Reply

  2. Hhhmm… ni hanif hobi rihlah ya??
    suka jg bagi oleh2 pula,keq narasi ini, nice…nice..

    ditunggu oleh-olehnya dari rihlah yg kan datang,yuuxx….

    Comment by fipooh — September 6, 2008 @ 5:57 pm | Reply

  3. mantap zoel puisine. tak saranna kyeh, kabeh puisi sing pernah nt gawe didokumentasikna. trus ngko gawe buku kaya gemien maning sing pernah nt posting tipe pdf kae lho. tak tunggu kyeh bro!!!

    Comment by akhdaafif — September 15, 2008 @ 10:38 am | Reply

  4. hiks hiks, seumur umur baru sekarang aku membaca puisimu zoel top dah

    akan aku kutipkan saripati kejayaan yang kau impikan, bahwa kau harus menjadi ‘gung’, gemanya bergaung gaung

    Comment by andi — September 16, 2008 @ 3:22 am | Reply

  5. ok dech, Ndi…
    sama-sama

    kita akan selalu sama-sama berjuang!

    blogmu mana nich?

    Comment by hanief — September 16, 2008 @ 10:03 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.