zoelzul

November 13, 2008

Menjadi Intelektual

Filed under: diary, opini — zoelzul @ 1:53 pm

Menjadi Intelektual

Menjadi intelektual adalah sebuah keharusan, bahkan menjadi kewajiban. Bagi kita, yang sudah terlanjur masuk ke dalam sebuah arus transformasi struktural. Mengapa? Sebab, intelektualitas kemudian menjadi bahasa lain pengakuan dan penguasaan ilmu pengetahuan sekarang. Pada era di mana kemapanan intelektualitas sudah sedemikian menjadi seiring makin menetapnya dominasi knowledge era.
Pertanyaan yang muncul kemudian adalah seberapa signifikan, besar, ataupun kuatkah pengaruh intelektualitas yang kita miliki untuk dapat mengubah dan me’revolusi’ kehidupan dan tatanan masyarakat. Hal tersebutlah yang seharusnya menjadi pertanyaan besar, sedemikian besar, sampai kemudian kita selalu berfikir tentangnya, bahkan jauh sebelum berfikir bagaimana menjadi intelektual.
Maka, mungkin langkah itulah yang kemudian menginspirasi Natsir, seorang ulama sekaligus cendekiawan muslim terbaik di zamannya, tatkala memutuskan untuk tidak mencari gelar sarjana hukum di Belanda. Di kala itu, pencapaian tersebut menjadi banyak impian dan idaman para tamatan AMS di Bandung. Pada akhirnya, dia memutuskan untuk merintis pendidikan Islam mulai dari kota tersebut (Mengenang 100 tahun M. Natsir: Berdamai dengan Sejarah). Itulah salah satu dari sebenar-benarnya intelektual.
Di sisi lain, menjadi intelektual sebenarnya secara substansi adalah bagaimana membentuk pola pikir yang benar. Bebas dari segala kontaminasi pragmatisme yang mematikan. Mereka –kaum intelektual tersebut– harus jernih memandang masalah. Sebab, di tangan merekalah kebenaran dan kebijaksanaan negeri ini dipertahankan. Bukan malah melacurkan diri menjadi ‘pion-pion’ kekuasaan atau pilar legitimasi penjajahan,korporasi yang kata Amien Rais disebut dengan sebagai praktek intellectual prostitute.
Tatkala itu terjadi, berkacalah kita. Seberapa berat tanggung jawab yang sebenarnya kita emban ketika melacurkan intelektualitas tersebut. Tak cukup sebatas kata tentunya, tetapi pasti ada pembuktian panjang. Nanti. Sebentar lagi. Ketika kita menjadi bagian dari selapis baru intelektual negeri ini. Melacurkan diri atau tidak sama sekali, sekaligus paham konsekuensinya. Hilang, terancam, termarginalisasi, bahkan dilupakan oleh sejarah bangsa sendiri.

-teriring doa:
semoga menjadi golongan orang-orang yang diberikan hikmah,
bukan sekedar seonggok ilmu pengetahuan-

4 Comments »

  1. bahkan menjadi orang baik di negeri ini pun repotnya setengah mati… astaghfirullah… kuatkan hambamu ini ya Allah…

    Comment by akhdaafif — November 14, 2008 @ 7:01 pm | Reply

  2. Nip, paragrafmu kurang jelas.
    Kasih enter skali lagi aja. :grin:

    Comment by agungfirmansyah — November 17, 2008 @ 5:32 pm | Reply

  3. Berjuang !!! :lol:

    Comment by faiqmiftakhul — November 18, 2008 @ 11:20 am | Reply

  4. tiada kata henti tuk menuntut ilmu! :)

    Comment by akhmad fa'iq — December 13, 2008 @ 9:31 am | Reply


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

Blog at WordPress.com.