zoelzul

May 3, 2008

FOR US; sebuah pengingatan yang selalu terkenang (dongeng menjelang tidur)

Filed under: diary — zoelzul @ 7:16 am

Did you know that many people brave to die at war?

But just a few people who brave to life at hardness! Even

(Innallah ma’ashobiriin)

Entah pesan ini dari siapa. Sampai saat ini pun, kami pun tak sanggup untuk menemukan siapa pengirimnya. Tapi itu bukan hal yang esensi. Terlebih esensi adalah isi dari pesan ini untuk kami.

Kami sadar, ada banyak hal yang membuat kami kemudian merasa “tak mampu” untuk memikulnya. Bukan, bukan karena kami tak sadar akan urgensinya. Tapi lebih kepada bagaimana mempertanggungjawabkan sebuah amanah yang kami pun bahkan merasa tidak sanggup menanggungnya.

Kami takut, justru di tangan kami, titik balik itu akan ada, “mina an-nuuri illa adz-dzuumatil”. Tapi bukan hanya dengan argument dalil naqli itu saja kami menimbang. Kami juga telah menimbang-nimbang berbagai macam konsekuensi yang sesuai dengan sunnatullahnya di masa datang nanti. Dengan sejumlah ‘prajurit siap tempur’ kami, yang tidak terlatih dengan baik, akankah kita memenangkan pertarungan di hari yang telah lalu itu?

Ke depan, kami berharap titik balik itu ada. Kalaupun bukan generasi kami yang harus membalikkan ‘itu’, kami sangat berharap sekali pada penciptaan ‘generasi mendatang’ yang lebih baik. Bukan sekedar berharap tentunya, kami sedang mempersiapkannya.

Persiapan itu sudah kami rancang sekarang. Dengan detail, hati-hati, dan kesadaran yang tinggi. Kami akan coba bangunkan prajurit-prajurit itu di akhir malam. Kami akan tempa mereka dengan sejumlah peralatan perang yang paling mutakhir. Terakhir, kami akan susun sebuah unit khusus intelijen yang rapi dan tak kan mudah tersusupi. Cerdas, sistemik, dan kemudian menggetarkan!

Di akhir tahun yang senyap-senyap, lalu terbangunkanlah kesadaran jiwa yang lalai akan resolusi yang telah dibuatnya, kami siap menorehkan tinta baru itu lagi. Sebuah kemenangan yang akan kami pertahankan untuk tiada putus lagi.

Selamanya… dalam masa keabadian zaman.

(Ini janji kami, maka perkenankan kami menunaikannya!)

-apaan sich nif, lagi nulis dongeng kan? mm…  you’re right-

April 24, 2008

Entah (imaji)…

Filed under: diary — zoelzul @ 8:37 am

Entah (imaji)… (more…)

April 18, 2008

Prestasi itu… apaan sich?

Filed under: diary — zoelzul @ 3:49 am

Kalau yang seperti itu sich (kompetisi mahasiswa berprestasi-pen) artifisial bro!

Yang namanya prestasi itu ya pengabdian dan kontribusi…

(disarikan dari pemikiran Guru Bangsa “The Arista Institute”)

Dua pemandangan yang berbeda di malam itu. Di satu sisi, seseorang memberikan definisi tentang prestasi kepadaku berupa pengabdian dan kontribusi tanpa henti, plus dengan pengorbanan. Dia sampaikan itu lewat diskusi denganku menjelang isya di kamarnya yang penuh penuh dengan buku plus alunan musik jazz. Sisi akademiknya ‘begitu hancur’ karena kelulusannya mungkin akan sampai batas akhir paling lama seorang mahasiswa S1 reguler diperkenankan kuliah di kampusku. Namun, sejarahnya sebagai seorang ketua di lembaga publik eksekutif di kampus ini begitu menyejarah.

Di lain sisi, seorang yang lain memberikan gambaran mengenai prestasi kepadaku lewat foto di hp-nya. HP yang baru ia perbarui beberapa waktu yang lalu, setelah dia mendapat gelar sarjana ekonominya. Foto itu bergambar sebuah piagam bertuliskan “Juara II Mapres” (mapres=mahasiswa berprestasi).

Aku terbangun, sadar, dan kemudian merenung. Renungan yang begitu lama sampai aku mengacuhkan berkali-kalinya panggilan membagi ilmu. Sampai aku kemudian mencoba merangkai rangkaian definisi prestasi yang menurutku bisa membuat kata itu jauh lebih berarti.

Rangkaian itu kemudian kutelisik dalam beberapa buku yang pernah kubaca: Menjadi manusia pembelajar oleh Andreas Harefa, Menjadi Muslim Prestatif oleh Aa Gym, Novel-novel best seller Habiburrahman El-Shirazy yaitu Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih beserta ceramahnya dalam dua kali bedah buku di Aula Student Centre kampus kami.

Dalam buku yang pertama, aku mengambil intisari bahwa siapapun bisa belajar dan kemudian berprestasi, tanpa bantuan bangku sekolah yang menyiksa. Bahwa belajar bisa terus dilakukan di universitas kehidupan bernama hidup yang kita alami itu sendiri.

Dalam buku yang kedua, aku dapat mengerti bahwa sebagai seorang muslim, berprestasi adalah dengan mengerjakan apa yang memang Allah perintahkan kepada kita. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya dan kemudian optimalkan potensi yang ada pada diri kita. Itulah salah satu esensi kesyukuran.

Dalam buku yang ketiga sekaligus ceramahnya, aku pun menemukan dua hal tentang prestasi yang lebih beragam lagi. Fahri itu, bisa lulus S1 dan kemudian S2 dengan predikat sangat baik, itu prestasi. Azzam juga. Ia bisa menamatkan kuliahnya walaupun tidak tepat waktu, tetapi mampu membiayai adik-adiknya di Indonesia sampai semuanya bisa bersekolah, itu juga prestasi. Dalam ceramahnya juga ditambahkan, “Yang penting itu berani hidup! Ada seorang mahasiswa di Solo yang gak mau lulus-lulus. Ketika ditanya kenapa dia menjawab seperti ini: kalau mau lulus mau jadi apa? Cari pekerjaan sulit, wirausaha gak ada modal. Mendingan jadi mahasiswa, masih punya status.”

Kembali ke definisi prestasi. Aku mencoba menarik benang merah seperti ini. Prestasi itu (barangkali) adalah sebuah capaian yang menurut diri itu berarti. Tak perlu harus dikuantifikasi, karena tidak semuanya mesti tercatat dalam lembaran ketikan prestasi di cv. Tak perlu pula dibanggakan, karena sejatinya semua hanya anugerah dari Tuhan, dan kita hanya objek yang sedang ditakdirkan menjalaninya.

Namun, bukan berarti kita harus menjadi orang ‘phlegmatic’, yang hanya bisa pasrah dan menunggu ‘keberuntungan zaman’. Tetaplah mendayung karena kita sekarang memang sedang hidup di samudra kehidupan. Atau mengutip kata-kata puitis dalam majalah Economica “Dayung terus sampanmu! Hingga langit kelam berganti biru, sampai bertemu pulau harapan!”

Dan bukan pula kita menjadi orang yang oportunis. Mengklaim segalanya prestasi kita dan berusaha mencapai sebanyak mungkin prestasi lewat unethical attitude. Meraih sebanyak mungkin kursi-kursi formal dengan meminimisasi pengorbanannya. Duh, alangkah tidak kontributifnya kita.

Kemudian, mengutip dari artikel ‘since good leaders are not enough’ di website (bukannya seharusnya paham dengan makna ini, kan?) tentang bagaimana seharusnya seseorang itu mencapai prestasinya “Collins menggambarkan kombinasi yang seolah-olah paradoksal antara kegigihan profesional (professional will) dengan kerendahan hati personal (personal humility)”.

Ya, di satu sisi kita berjuang sebaik mungkin untuk apa pun (dengan segenap tumpahan pikiran, kerja keras, dan determinasi yang begitu tinggi) yang kita ingin capai. Dengan bagaimanapun caranya, selama masih dalam rule of the game (of our life) yang kita jadikan pegangan.

Di sisi lain, kita harus mengakui, bahwa capaian itu bukan wilayah kita. Maka tak perlu ada rasa kecewa. Yang seharusnya ada adalah rasa malu, bahwa potensi ini belum sepenuhnya keluar untuk sebuah amal yang nyata dalam hidup. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita, tetangga kita, kampung kita, desa kita, dan umat kita.

Terakhir, tetaplah dalam track orang yang selalu berorientasi pada prestasi:

“Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”

-yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya dia menguji kamu,

siapa di antara kamu yang paling baik amalnya-

(Q.S.67:2)

-for my brother-

March 13, 2008

PKMM “Spirit MAN! Sekolah Perakitan Komputer Insan Terpadu”

Filed under: diary — zoelzul @ 10:40 am

 Judul di atas adalah judul PKMM tim kami yang kemarin, alhamdulillah, diumumkan sebagai salah satu proposal yang diterima oleh DIKTI. Terimakasih pada Hazlinda yg dengan semangat 45  memberi tahuku bahwa pengumuman PKM telah terbit

Lahirnya Spirit MAN!

Spirit MAN! asal kata dari Spirit = “Sekolah PerakItan kompuTer Insan Terpadu” dan MAN! = “Mencerdaskan Anak banNgsa”. Sebuah nama dengan gambaran yang penuh SEMANGAT, penuh HAMASAH kata orang Arab, mungkin orang-orang Cina akan bilang CHAYOO!, atau teriakan GANBATE! yang akan muncul dari lisan orang Jepang. Dan yang tidak kalah keren, “SEMANGAT REK!”.

Spirit MAN! lahir dari sebuah diskusi antara dua orang mahasiswa Fasilkom lintas angkatan, 2004 vs 2005. Di sebuah kamar Afif sang (bakal) ketua, karena memang dia yang paling tua dalam tim nantinya (karena saat itu tim belum terbentuk, nama Spirit MAN! pun belum lahir), Agung menceritakan idenya. Ide tentang bagaimana ilmu yang telah dipelajari bisa diaplikasikan oleh orang-orang yang tidak belajar komputer di bangku kuliah.

Ide Spirit MAN! bergulir dari lisan dua hamba Allah tersebut. Dan, sampailah mereka pada suatu kesepakatan ide: merealisasikan ide ini dengan mengajukannya sebagai salah satu proposal PKM 2008. Ide pun didetailkan. Mengajarkan bagaimana merakit, mereparasi, dan berdangang komputer beserta komponen-komponennya kepada sekelompok anak-anak jalanan di suatu rumah singgah. Yap,….itulah ide kami.

Menciptakan TIM

Langkah pertama adalah meciptakan tim (bukan team building). Afif mengusulkan Zulhanief, his twin brother but they’re not really twin karena selisih umurnya lebih dari 1 tahun. Alasannya : kita butuh meramaikan ide dengan memasukkan anak Akuntansi. Agar tidak monoton berhaluan boolean(kalau g 1 ya 0) melulu. Ide bagus menurutku. Aku mengajukan Ridho karena berdasarkan pengamlamanku bekerjasama dengannya di LKTM tahun lalu, Ridho orang yang bisa diandalkan. Pekerjaan yang dikerjakannya selesai. Itu hal penting buatku. Afif setuju. Nah, diajaklah dua orang tersebut untuk bergabung.

Tim PKM maksimal beranggotakan 5 orang. Kira-kira siapa lagi yang akan diajak?! Kami pun berdiskusi menentukan kriteria untuk “orang terakhir ini”. Dan kami langsung menyepakati satu kriteri : WANITA. Secara (alah…, ini artinya apaan sih???) tim Spirit MAN! keempatnya adalah lelaki maka Spirit MAN! butuh “sentuhan” wanita. Job role untuk Mbak/Teteh/Uni/None/Ibu yang satu ini lansung jelas : merapikan semua bentuk laporan, perencanaan, pembukuan, dan semua yg berbau kesekretariatan. Hmmm…., puas rasanya bakal terbebas dari tugas-tugas seperti itu.

“Perburuan” Wanita

Singkat saja (takut salah persepsi), ada beberapa nama. Dan sasaran pertama langsung menyatakan bersedia. Siapa?? Ya Hazlinda. Kan namanya sudah ada di atas!

Karunia Tak Terduga

Pembuatan proposal dimulai. Ya…,biasa-biasa saja. Tak perlu diceritaain. Sampai ada rasa syukur karena Allah telah mengarahkan hati untuk mengambil keputusan yang tepat: memasukkan Hanif kedalam tim. Dengan adanya Hanif, materi ide bertambah. Tidak hanya mengajarkan bagaimana merakit, mereparasi, dan menjual komputer tetapi juga membuat pembukuan yang rapi untuk bisnis yang bakal mereka (anak-anak target Spirit MAN!-red) dirikan. Coba kalau isinya Fasilkom semua. Yakin dah bakal susah.

Kenapa Spirit MAN!

Ide itu muncul sekilas saat aku ingat sama kelasku di SMA : Classix Spirit. Kelas penuh semangat, kenangan, dan persaudaraan. Maka nama Spirit pun disematkan. Baru setelah itu kami mencari enaknya kepanjangan dari Spirit tuh apaan(dah pada tau kan??!). Terus biar tambah semangat, kita tambahin kata MAN!(bukan diskriminasi gender lho…). Dan lagi, baru setelah itu mencari kata kepanjangan MAN!. Jadilah nama Spirit MAN! Nama, yang bagi kami, penuh semangat. Nama yang akan mengantarkan saudara-saudara kita untuk berilmu dan berjuang demi hidup mereka. Semoga….

Ini hanya sebuah kisah dibalik lahirnya proposal PKMM Spirit MAN! Aku yakin banyak kisah menarik di setiap kejadian. Coba ceritakanlah…

Lalu, bagaimana detail Proyek Spirit MAN! ini??

Insya Allah akan segera saya tulis supaya idenya bisa dimanfaatkan dan dikembangkan oleh banyak orang. Demi kesejahteraan umat.

“Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat di antara kalian.”(Al Hadist).

 

(dikutip dari weblognya agung firmansyah)

January 29, 2008

Bumi Manusia: Sekadar Obrolan Kritikus Sastra (Independen)

Filed under: diary — zoelzul @ 11:00 am

Kemarin (Rabu,28/3/2007) baru saja selesai baca novel “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan (terbaik) Indonesia dan satu-satunya sastrawan Indonesia yang pernah mendapatkan nominasi nobel dunia dalam bidang sastra. Novel berjudul Bumi Manusia itu sendiri ternyata merupakan tetralogi (4 novel yang saling terkait), berurutan dari novel yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Tidak ada muatan yang spesial dalam novel itu, (menurut saya sebelumnya) sampai-sampai pemerintah Indonesia di zaman Orde Baru harus melarang peredarannya di negeri ini. Sampai suatu malam, ba’da salat maghrib @lantai asrama tercinta, saya berdiskusi dengan teman satu lantai yang ‘ilmu’-nya tentang dunia sastra atau per-novel-an lebih tinggi dari saya (yang memang tidak mengerti sama sekali tentang dunia novel). Kurang lebih seperti ini dialognya:

“Ki, tadi saya habis baca novel Pram. Luar biasa ceritanya. Bagus banget,“ kataku.

“Iya, bener ya. Kita kayak kebawa alur ceritanya, ya,” balasnya menimpali.

“Tapi kenapa ya, ki, novel kayak gitu dilarang beredar di Indonesia. Padahal kan ceritanya bagus. Ceritanya itu kan tentang sejarah Indonesia juga, terutama sebelum kemerdekaan,”

“Memang sich, ada beberapa penggalan cerita dalam novel tersebut yang melanggar etika ke-Indonesia-an terutama jika dikaitkan dengan konteks pada zaman itu. Tapi lagi-lagi itu, bukan alasan yang tepat, kukira, untuk melarang peredaran sebuah novel ”kata saya melanjutkan.

“Kalau menurut saya, bukan itu sich sebenarnya yang  membuat novel itu menjadi dilarang, tapi makna dan pesan tersirat yang ada di dalamnya,“ jawab teman saya.

“Terus,” lanjutnya. “Coba dech dilihat secara global. Itu kan novel tetralogi. Jadi ceritanya saling terkait. Ceritanya itu mulai dari zaman pra-kemerdekaan Indonesia sampai Indonesia merdeka. Tokoh utamanya juga masih tetap itu-itu juga, si Minke.”

“Nah yang jadi soal itu adalah pesan-pesan moril yang terkandung secara tersirat maupun tertulis langsung di novel itu. Coba dech direnungi lagi, fren. Terutama kata-kata terakhir dalam novel itu. Kita telah melawan, nak, Nyo, dengan sebaik-baiknya, dengan sehormat-hormatnya. Gitu kalo ga salah ya,” teman saya itu melanjutkan panjang lebar.

“Dikit nyambung, Ki. Itu kan berarti tentang perlawanan. Kita harus melawan sesuatu yang telah ada dan tidak sesuai dengan nurani kita,” Saya balas menimpali.

“Betul, bro. Itulah pesan sesungguhnya. Orde baru itu gak mau kalo banyak pemuda or mahasiswa yang membaca novel itu, kemudian timbul semangatnya untuk mengkritisi, untuk membela dan melawan kebijakan penguasa yang gak sesuai dengan nurani mereka. Nah, makanya novel itu dilarang,” dia melanjutkan lagi.

“Terakhir fren, bahasa sastra itu memang susah untuk ditafsirkan. Tetapi begitu pesannya nyambung ke pembaca, maka secara langsung pesan itu akan menimbulkan dorongan bagi yang baca untuk bertindak dan pesan-pesan itu biasanya akan tertanam terus di hati pembaca. Apalagi novel Pram itu, pas tahun 1970-an aja udah dapet penghargaan banyak dari mana-mana. Otomatis itu akan mengundang banyak generasi muda kita untuk ikut-ikutan baca. Akhirnya, berubahlah semua”, ujarnya mengakhiri dengan (tampak) bijaksana.

January 6, 2008

Salam…..

Filed under: diary — zoelzul @ 3:51 am

Ini postingan perdana nih di blog baru setelah lama gak ngeblog dan gonta-ganti blog provider hwakakaakak…..

Semoga dengan adanya blog ini bisa bermanfaat bagi siap saja. Amiin ya Allah….

« Previous Page

Blog at WordPress.com.