Kalau yang seperti itu sich (kompetisi mahasiswa berprestasi-pen) artifisial bro!
Yang namanya prestasi itu ya pengabdian dan kontribusi…
(disarikan dari pemikiran Guru Bangsa “The Arista Institute”)
Dua pemandangan yang berbeda di malam itu. Di satu sisi, seseorang memberikan definisi tentang prestasi kepadaku berupa pengabdian dan kontribusi tanpa henti, plus dengan pengorbanan. Dia sampaikan itu lewat diskusi denganku menjelang isya di kamarnya yang penuh penuh dengan buku plus alunan musik jazz. Sisi akademiknya ‘begitu hancur’ karena kelulusannya mungkin akan sampai batas akhir paling lama seorang mahasiswa S1 reguler diperkenankan kuliah di kampusku. Namun, sejarahnya sebagai seorang ketua di lembaga publik eksekutif di kampus ini begitu menyejarah.
Di lain sisi, seorang yang lain memberikan gambaran mengenai prestasi kepadaku lewat foto di hp-nya. HP yang baru ia perbarui beberapa waktu yang lalu, setelah dia mendapat gelar sarjana ekonominya. Foto itu bergambar sebuah piagam bertuliskan “Juara II Mapres” (mapres=mahasiswa berprestasi).
Aku terbangun, sadar, dan kemudian merenung. Renungan yang begitu lama sampai aku mengacuhkan berkali-kalinya panggilan membagi ilmu. Sampai aku kemudian mencoba merangkai rangkaian definisi prestasi yang menurutku bisa membuat kata itu jauh lebih berarti.
Rangkaian itu kemudian kutelisik dalam beberapa buku yang pernah kubaca: Menjadi manusia pembelajar oleh Andreas Harefa, Menjadi Muslim Prestatif oleh Aa Gym, Novel-novel best seller Habiburrahman El-Shirazy yaitu Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih beserta ceramahnya dalam dua kali bedah buku di Aula Student Centre kampus kami.
Dalam buku yang pertama, aku mengambil intisari bahwa siapapun bisa belajar dan kemudian berprestasi, tanpa bantuan bangku sekolah yang menyiksa. Bahwa belajar bisa terus dilakukan di universitas kehidupan bernama hidup yang kita alami itu sendiri.
Dalam buku yang kedua, aku dapat mengerti bahwa sebagai seorang muslim, berprestasi adalah dengan mengerjakan apa yang memang Allah perintahkan kepada kita. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya dan kemudian optimalkan potensi yang ada pada diri kita. Itulah salah satu esensi kesyukuran.
Dalam buku yang ketiga sekaligus ceramahnya, aku pun menemukan dua hal tentang prestasi yang lebih beragam lagi. Fahri itu, bisa lulus S1 dan kemudian S2 dengan predikat sangat baik, itu prestasi. Azzam juga. Ia bisa menamatkan kuliahnya walaupun tidak tepat waktu, tetapi mampu membiayai adik-adiknya di Indonesia sampai semuanya bisa bersekolah, itu juga prestasi. Dalam ceramahnya juga ditambahkan, “Yang penting itu berani hidup! Ada seorang mahasiswa di Solo yang gak mau lulus-lulus. Ketika ditanya kenapa dia menjawab seperti ini: kalau mau lulus mau jadi apa? Cari pekerjaan sulit, wirausaha gak ada modal. Mendingan jadi mahasiswa, masih punya status.”
Kembali ke definisi prestasi. Aku mencoba menarik benang merah seperti ini. Prestasi itu (barangkali) adalah sebuah capaian yang menurut diri itu berarti. Tak perlu harus dikuantifikasi, karena tidak semuanya mesti tercatat dalam lembaran ketikan prestasi di cv. Tak perlu pula dibanggakan, karena sejatinya semua hanya anugerah dari Tuhan, dan kita hanya objek yang sedang ditakdirkan menjalaninya.
Namun, bukan berarti kita harus menjadi orang ‘phlegmatic’, yang hanya bisa pasrah dan menunggu ‘keberuntungan zaman’. Tetaplah mendayung karena kita sekarang memang sedang hidup di samudra kehidupan. Atau mengutip kata-kata puitis dalam majalah Economica “Dayung terus sampanmu! Hingga langit kelam berganti biru, sampai bertemu pulau harapan!”
Dan bukan pula kita menjadi orang yang oportunis. Mengklaim segalanya prestasi kita dan berusaha mencapai sebanyak mungkin prestasi lewat unethical attitude. Meraih sebanyak mungkin kursi-kursi formal dengan meminimisasi pengorbanannya. Duh, alangkah tidak kontributifnya kita.
Kemudian, mengutip dari artikel ‘since good leaders are not enough’ di website (bukannya seharusnya paham dengan makna ini, kan?) tentang bagaimana seharusnya seseorang itu mencapai prestasinya “Collins menggambarkan kombinasi yang seolah-olah paradoksal antara kegigihan profesional (professional will) dengan kerendahan hati personal (personal humility)”.
Ya, di satu sisi kita berjuang sebaik mungkin untuk apa pun (dengan segenap tumpahan pikiran, kerja keras, dan determinasi yang begitu tinggi) yang kita ingin capai. Dengan bagaimanapun caranya, selama masih dalam rule of the game (of our life) yang kita jadikan pegangan.
Di sisi lain, kita harus mengakui, bahwa capaian itu bukan wilayah kita. Maka tak perlu ada rasa kecewa. Yang seharusnya ada adalah rasa malu, bahwa potensi ini belum sepenuhnya keluar untuk sebuah amal yang nyata dalam hidup. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita, tetangga kita, kampung kita, desa kita, dan umat kita.
Terakhir, tetaplah dalam track orang yang selalu berorientasi pada prestasi:
“Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”
-yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang paling baik amalnya-
(Q.S.67:2)
-for my brother-