sudah lama aku ingin bercerita ini, kawan! tentang perjalanan kemarin, di teriknya ufuk juli... tentang pertemuan kita di siang sampai sore itu.. atau kayuh kita di atas sepeda motor tuamu. menyusuri sudut kota, masjid tua, sambil terus mencicipi makanan yang tersedia bahkan mungkin, ulasan cerita engkau yang bincangkan temanmu itu, si bendahara rohis di masa pendarmu dulu... ...yang oleh-olehnya kugenggam erat sebelum kubagikan sesuai amanahmu... :: benar kawan, kalau engkau tak percaya niat awal perjalanan itu, hanya untuk melangkahkan kaki.. ke istanamu.. Itu.. yang selalu kau banggakan itu yang tiangnya adalah cikal tiang peradaban dan atapnya adalah payung kemenangan percayalah! bukan ke kota apel itu, walaupun hawanya hampir meremukkan ujung jariku dan indahnya tetap memukau mataku... :: lalu biarlah, aku ambil selaksa hikmah dari perjalanan semasa itu.. tentang bayangan bidadari di bus kota atau elegi ukhuwwah yang tak kan pernah kita lupa bahkan cerita bersama teriakan dari 'dewi andika', bahwa pribumi harus dan pasti bisa berjaya :: dan pasti kita telah belajar banyak.. dari jemuran padi kuning di teras rumahmu atau begitu bersahajanya rumah dan kamarmu semua itu, akan mengukuhkanku; bahwa peradaban akan diusung oleh orang-orang yang memahami bahwa hidup sangatlah sederhana, dan haruslah diisi oleh orang-orang yang luar biasa! mungkin seperti kita: semoga! :: lalu percayalah, bahwa setiap perjalanan selalu memberi banyak energi untuk sekedar melihat, bahwa hidup bukanlah mati yang bergerak atau berjalan tanpa rasa, dari pelarian panjang kuliah yang begitu tergesa di waktu itu. karena kau pasti akan tahu... di akhir perjalanan itu Aku memeluk ibumu begitu erat sama seperti ketika aku kembali ke halamanku ketika ibuku menyambutku dengan begitu hangat, sampai kadang tak kusadari bahwa aku sendiri bukan kanak-kanak kemarin sore. :: dan akhirnya, malam ini kita merajut mimpi kita sendiri... tentang impian neo lintang, atau tentang impian peradaban yang dulu sering kita bincangkan di penghujung malam: haruskah kita yang menjadi pilar? atau lalu.. tentu kita tidak hanya menumpang, bukan? kita harus jadi bagian dari kejayaan negeri dan ummat ini... :: lalu esok pagi, Aku yakin, kitalah yang memulai kembali! bersama membangun di generasi baru ekonom terbaik ummat ini... Ah.. mudah-mudahan engkau tidak menghilang lagi! jombang-malang-madiun, di medio Juli 2008 -written in Depok,2rmdhn1429-
September 4, 2008
Narasi lalu, untuk seorang teman
August 22, 2008
…puisi…
Akan Cinta yang Belum Bernama
kata teman:
Cinta itu masih belum bernama…
tapi aku mengelak,
mungkin sudah,
tapi nun jauh di sana,
entah di ufuk barat pulau bernama itu…
kata ibu:
luluskan dulu sekolahmu itu…
tapi aku meyakinkannya,
mungkin harus ditumbuhkan dulu,
siapa tahu janji itu akan benar-benar bertemu,
pada suatu pagi,
tepat suatu ketika,
aku menemukan sebuah teori ekonomi baru…
kata kolega:
urus dulu bisnismu itu…
tapi saya balik menentang,
siapa kamu?
berani-berani mengatur hidupku
uruslah bagianmu itu dulu,
yang belum selesai dari dini lalu…
tapi Tuhan terlalu bijak untuk berfirman,
sampai aku tak dapat lagi berkata-kata…
akan Cinta yang belum bernama,
Dia selalu mengingatkanku,
Aku yakini itu…
tinggal kuatkan segenggam niat,
kepalkan sedikit keberanian,
lalu kuucapkan itu
di depan seseorang yang selalu kau banggakan
yang peluhnya selalu jadi tempatmu bernaung…
Ya!
lalu Cinta menjadi bernama…
segera pada suatu ketika itu,
ku kan coba membuat rindu,
untuk satu hatimu,
yang tak pernah jemu
Biar kucinta selalu…
-notes-
.:tuk seorang doktor ilmu ekonomi di masa mendatang:.
‘kau harus mengerti, cinta tak kan pernah
menghalangi seseorang tuk mengejar takdirnya’
-paulo coelho-
July 9, 2008
Masa SMP Kami
Pagi menjelang siang di hari Jumat, tepatnya menjelang salat Jum’at adalah waktu yang kami berdua sukai. Itulah waktu yang tepat bagi kami untuk bercerita. Tentang sekolah, guru-guru, dan tentu saja tentang OSIS, organisasi intra sekolah di mana kami berdua mulai mengenal dekat satu sama lain.
Tetapi tetap saja, satu tema yang selalu kami bahas di perjumpaan itu adalah tentang rencana hidup kami. Ya, lebih tepatnya tentang mimpi. Karena kami hampir tak pernah mendefinisikan jalan untuk mencapai rencana itu. Mimpi dua orang murid kelas 2, SMP Negeri 2 Barbas. Sekolah Menengah Pertama terbaik di kota kami.
“Aku heran sama Pak Yogi. Sebagai pembina OSIS, seharusnya dia membela usulan kegiatan yang kita ajukan. Pengajian mingguan dan olahraga rutin tiap bulan menurutku bukan suatu kegiatan yang terlalu muluk.,” kata Fulan memulai pembicaraan rutin kami di selasar masjid Agung dekat sekolah kami.
“Menurutku, dua usulan kegiatan itu memang sangat mungkin untuk terlaksana,” kataku sambil mengerutkan dahi. Aku serius menanggapi perkataan Fulan.
“Ya sudahlah. Biar usulan itu disampaikan dulu ke Pak Sugara, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan kita yang galaknya minta ampun itu,” tambahku mengakhiri satu tema pembicaraan.
Maka, episode perbincangan berikutnya sudah bisa ditebak. Membincangkan rencana masa depan. Fulan hampir selalu menanyakan hal yang sama di setiap perbincangan rutin kami itu. Dan satu hal yang membuatku terkesan adalah aku tidak pernah merasa bosan dengan tema ‘rencana masa depan’ yang selalu kami bicarakan. Aku merasa dia seorang penutur yang baik.
“Oh ya, Rul. Setelah lulus SMP ini, mau melanjutkan sekolah ke mana?”
“Kalau Amar, Amid, sama Adi itu sepertinya ingin melanjutkan sekolah ke SMA TN[1]”
“Kalau aku sendiri, sudah menetapkan hati untuk sekolah di SMAN 1 Barbas. Kalau kamu, Rul?”
“Aku mau melanjutkan sekolahku setelah SMA di fakultas kedokteran. Aku mau jadi dokter, Rul! Kamu Rul, apa cita-citamu?”
Aku terkadang hanya senyum-senyum sendiri mendengar ceracau pertanyaan dari Fulan. Beberapa pertanyaan yang kuanggap penting, kutanggapi sampai panjang lebar sampai menimbulkan debat kusir yang mengasyikkan. Sampai-sampai, penjaga sandal di selasar masjid mengingatkan kami, sebentar lagi adzan salat Jumat berkumandang. Lainnya, pertanyaan yang tidak kuanggap penting, biasanya kujawab singkat.
***
Aku, Ahmad Nasrul. Biasa dipanggil Arul. Ketua OSIS SMP Negeri 2 Barbas sekarang. Teman dekatku itu, Fulan Azzami. Wakil Ketua II OSIS yang membawahi seksi I, seksi kerohanian Islam, karena di sekolahku kebetulan semua siswanya adalah muslim.
Kami berdua ditambah tiga orang teman yang lain, Amar, Amid, dan Adi adalah orang-orang yang dianggap ‘pintar’ oleh lingkungan di mana kami bersekolah. Tidak adil sebenarnya, karena cap “pintar” yang ditujukan kepada kami hanyalah karena satu capaian yang kami raih. Kami berlima selalu merebut ranking pertama di masing-masing kelas tempat kami belajar. Aku di kelas 2E. Amar, Amid, Adi, dan Fulan di kelas 2A, B, D, dan C. Karena cap “pintar” itu juga, kami berlima diserahi amanah ini sekarang, menjadi pengurus inti OSIS SMPN 2 Barbas.
***
“Permisi, Pak! Mau memanggil Nasrul. Saya disuruh Pak Sugara. Nasrul diminta menemui Beliau di kelas 3E sekarang,” pinta Kak Ida, kakak kelasku yang juga mantan ketua OSIS pada guru IPS yang mengajar di kelasku. Suara kak Ida yang lembut itu sudah sangat familiar di telingaku.
Kelanjutannya, aku sudah bisa menduga. Pasti ada masalah dari kegiatan OSIS yang nekat kami adakan. Pengajian mingguan itu, yang diadakan seksi I, seksi kerohanian Islam, di musala sekolah kami kemarin sore.
Benarlah yang kuduga. Pak Sugara, wakil kepada sekolah bidang kesiswaan itu marah besar.
“Kamu ini tahu tidak, Rul! Coba bayangkan kalau aliran kayak Muhammadiyah, NU, Persis itu masuk sekolah kita lewat pengajianmu itu. Terus, mau jadi apa organisasi sekolah kita ini. Organisasi intra sekolah negeri ya harus tetap netral! Jangan bawa-bawa embel-embel dari luar. Kalau kita buka satu saja misalnya, untuk Muhammadiyah, lalu NU juga masuk, Persis juga. Nanti sekolah kita lama-lama dimasuki banyak sekali aliran. Hentikan saja pengajian itu!”
“Ya, pak!” itulah kata yang bisa aku lontarkan saat itu. Aku hanya bisa menjawab pelan dengan kepala tertunduk.
“Fulan! Amar! Amid! Adi!” teriakku dalam hati. Ya, aku harus secepatnya bertemu teman-teman pengurus OSIS yang lain. Tak mau aku kalau harus mempertanggungjawabkan hal ini sendirian. Aku tak berani.
***
Esok paginya, pukul 5.30, kami berlima mengadakan rapat mendadak di ruang OSIS. Aku, Amid, Adi, Amar, dan tentu saja, Fulan. Suasana rapat kami ketika itu persis seperti para komando perwira militer yang ingin melakukan kudeta terhadap presiden. Para peserta rapat itu terlihat intelek. Gaya dan ucapan kami pada rapat itu lebih mirip politisi ketimbang pelajar SMP. Maklum, selain di OSIS, kami berlima juga aktif di organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia) Kota Barbas, di mana kami menemukan cara berdiskusi, rapat, dan menyampaikan pendapat dengan baik.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Masak membuat pengajian di sekolah saja tidak dibolehkan,” kataku setelah masuk ke bagian inti rapat.
Fulan menguatkan, “Saya kira isi dari pengajian yang telah kita laksanakan itu tidak ada unsur mengajak untuk ikut dalam ormas tertentu. Sama sekali tidak. Kita hanya mengundang teman-teman kita yang berminat untuk mempelajari Islam lebih dalam. Kita hanya menyediakan wadahnya. Tidak lebih.”
“Saya juga takut, kalau kegiatan pengajian seperti ini saja sudah dilarang, lain waktu mungkin kegiatan perkemahan di luar sekolah juga akan dilarang. Alasannya bisa dibuat-buatlah. Misalnya, sekolah tidak mau disalahkan kalau ada siswa yang kehilangan barang-barangnya dan orang tuanya menuntut ke sekolah,” sambung Adi, sekretaris umum OSIS yang juga ketua ekstra kurikuler Pramuka.
“Lama kelamaan, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kita akan mati. Banyak siswa yang tidak berminat. Membosankan. Hanya di dalam sekolah dan lingkupnya terbatas. Lalu, tinggallah kegiatan belajar mengajar alias KBM alias kelas belajar menerus,” tambah Amar yang juga wakil ketua I OSIS dengan geram.
“Sepakat! Kita akan menemui Pak Sugara bersama-sama pulang sekolah nanti. Kita kumpul dulu di kelasku, yang paling dekat dengan ruang guru. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” kataku menyimpulkan sekaligus mengakhiri rapat mendadak kami pagi itu.
***
Sesuai rencana, kami berlima menghadap Pak Sugara seusai pulang sekolah. Amar yang maju pertama kali, melangkahkan kaki ke meja Pak Sugara, yang dekat dengan pintu masuk ruang guru.
“Assalamualaikum,” Amar berusaha tampak ramah.
“Ada apa kalian berlima seperti itu? Seperti mau demo saja!” Pak Sugara menanggapi dengan perkataan yang ketus.
Fulan mengambil alih pembicaraan, “Begini, Pak. Terus terang, kami tidak setuju dengan pendapat Bapak yang menolak kegiatan yang kami laksanakan, yaitu pengajian mingguan di musala sekolah. Kami rasa apa yang kami lakukan itu tak lebih dari tanggung jawab kami sebagai pengurus OSIS untuk memfasilitasi kegiatan teman-teman kami di sekolah ini. Terutama yang tertarik mempelajari Islam lebih dekat.”
“O, jadi kalian ingin melawan saya! Melawan keputusan saya! Saya ini sudah lama jadi guru di sini. Sudah 25 tahun. Sebelum kamu-kamu ini lahir, saya sudah mengajar di sini. Dan selama itu, tidak ada yang berani melawan keputusan saya ketika memutuskan sesuatu”
Giliranku sebagai ketua OSIS berpendapat untuk meredakan ketegangan,“Bukan itu maksud kami, Pak. Kami hanya ingin kegiatan di sekolah kami semarak. Tidak hanya dari sisi akademis saja kita dianggap sebagai sekolah favorit di kota ini.”
“Sekali lagi saya katakan. Saya ini mengajar di sini sudah lama. Saya tahu, bahwa murid-murid yang sukses itu, ya murid-murid yang tekun dan rajin belajar. Tidak perlu pakai acara pengajian seperti itu segala….”
“Belajar…belajar….! Ya kalian sekolah ini untuk belajar. Bukan yang lain. Kalau mau bikin kegiatan, apalagi pengajian, ya di rumah saja sana! Di kampungmu itu, Rul! Di Kluwut[2] saja sana!”
Aku tersinggung bukan main. Desa tempat kelahiranku dilecehkannya. Memang apa yang salah dengan Desa Kluwut. Lalu, apa salah jika aku kemudian dilahirkan di sana.
Namun, belum sempat aku membalas komentar Pak Sugara yang menyakitkan itu, Fulan lebih cepat bersuara.
“Kalau seperti ini yang Pak Sugara minta, lebih baik kita mundur saja dari amanah pengurus OSIS ini. Kami merasa malu tidak bisa melakukan kegiatan apa-apa di kepengurusan OSIS ini.”
Belum tiga detik Fulan mengakhiri kalimatnya….
Plak…Plak….Plak! Tangan kekar Pak Sugara bergerak dengan sangat cepat menyentuh muka Fulan.
Aku kebingungan di samping Fulan. Aku menengok ke belakang. Sepi.
Sial, teman-temanku sudah lebih dulu mengambil langkah mundur. Bergegas menyelamatkan diri ke belakang. Tinggal aku dan Fulan tertinggal di ruang guru. Guru-guru lain yang ada di ruang itu seakan membisu. Hanya bisa melihat, tanpa bereaksi sedikitpun. Aku heran.
Sekejap itu, aku mengait lengan Fulan, menariknya keras dan membawanya keluar dari ruang guru menuju tempat parkir sepeda.
“Maaf! Maaf!” Amar, Adi dan Amid serentak mengucapkan kata itu. Rupanya mereka menunggui kami di ruang sepeda.
“Sst! Bicara apa kalian. Ayo bantu kami!” teriakku.
Wajah Fulan terlihat sangat kuyu. Pipinya biru. Lebam. Matanya basah. Ingin menangis tampaknya, tetapi seolah tertahan. Kukira dia malu.
Kami berlima menuju ke rumah Amar. Rumah paling dekat dari sekolah di antara rumah kami berlima.
Lebam pipi Fulan dibersihkan Adi. Lalu, kami salat dhuhur berjamaah di teras rumah Amar yang sangat luas dan bersih. Aku imamnya. Fulan dan Adi menyusul menjadi makmum masbuk[3] di dua rakaat terakhir salat dhuhur berjamaah kami.
Usai salat, kami berlima berbincang santai. Seolah melupakan kejadian yang baru saja kami alami. Sambil berbincang, Mbok Imah, pembantu di rumah Amar menyiapkan nasi dengan lauk pauk lengkap untuk kami berlima. Kebetulan hari ini hari Sabtu. Jadwal rutin informal kami untuk berkunjung ke rumah Amar untuk makan, mengobrol, dan main PlayStation bersama.
Aku menyeletuk membuka pembicaraan,“Kita bubarkan saja OSIS sekolah kita”
“Sepakat!” seru Amar tegas.
“Sebentar… sebentar….,” Amid yang kocak, berbicara dengan telapak tangannya menghadap ke depan. Persis orang yang ingin memberhentikan sepeda yang lewat di depannya.
Tiba-tiba Amid berseru. Suara Amid menggelegar sambil mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Mirip seorang pejuang revolusi meneriakkan kata merdeka di tahun ’45.
“Aku sangat sepakat!!”
Kami semua terkekeh. Tak terkecuali Fulan.
Sampai detik ini, kami tetap merasa, masa SMP kami tak tampak berbeda dari siswa SMP kebanyakan di negeri ini.
Kukusan Teknik
26/3/2008 15:02 – 28/3/2008 14:35
[1] SMA TN = Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara. Sebuah SMA unggulan, berbeasiswa, dan dididik dengan gaya semi-militer yang berada di Kota Magelang, Jawa Tengah.
[2]Kluwut adalah nama sebuah desa terpencil di daerah Barbas, Jawa Tengah. Di desa itu, lebih dari 50% penduduknya tidak mengeyam pendidikan formal di bangku sekolah.
[3] Makmum yang terlambat hitungan rakaatnya dari imam
** Penulis cerita pendek ini sekarang sedang berusaha mewujudkan salah satu mimpinya: menjadi penulis novel
January 8, 2008
Senandung Hujan
Hujan ini menggoreskan tanya
Sampai kapan engkau berada di sana
Entah sampai kau terhempas masa
Hanya prediksi wacana belaka
Ini hujan ada asa
Ini masa kau harus berkarya
Bukankah basahnya telah nyata
Ada rasa t’lah tercipta
Aku harus dikenang dunia
Bukankah derasnya makin nyata
Dan adakah hidup untuk kau saja?
-Wisma Arjuna, SINTESA UI, di sore hari ketika hujan turun begitu derasnya-