wah, pengen nge-post lagi
kemaren iseng-iseng bikin puisi…
tapi sayang ga bisa di post karena filenya ga bisa dibuka
— puisi yang keren…. tungguin ya!
wah, pengen nge-post lagi
kemaren iseng-iseng bikin puisi…
tapi sayang ga bisa di post karena filenya ga bisa dibuka
— puisi yang keren…. tungguin ya!
*
Sore itu, toko BPM baru saja buka. Entah berapa kali, saya melewati pelataran depan toko itu dan tetap saja masih tak kelihatan kehidupan tampaknya.
“Mungkin jualannya gak laku,” pikir saya ketika itu.
“Atau mungkin, mereka sedang mengejar ‘proyek-proyek lain’ yang lebih menguntung-kan. Entah proyek akademik, bisnis, ataupun sekedar menyapa konstituen sambil mengakrabi mereka di ketinggian lain student centre atau gedung besar di kampus ini”
Tapi sore ini, toko BPM jadi kelihatan ramai. Ada jualan baru sepertinya. Ya, sore itu BPM menjual jajanan yang setiap musim ramai dibicarakan khalayak di kampus ini. Kue OPK namanya.
Tapi sayang, kali ini bukan BPM lagi yang jadi kokinya. BPM turun pangkat. Sekarang, dia hanya jadi tempat penitipan barang konsinyasi kue itu. Resep kue itu sendiri dibuat berdasarkan petuah ‘resep ajaib’ ala dekanat. Kokinya adalah koki baru yang namanya BEM. Maka, semestinya koki baru, ia akan selalu percaya bahwa ‘resep ajaib’ itu tidak bisa sedikit dimodifikasi, bahkan takut untuk sekedar dibumbui, biar kue OPK makin enak.
**
Problematikanya tidak berhenti sampai di situ. si Koki kemudian minta rekan-rekan sejawatnya, si BO/BSO untuk sama-sama menyetujui (bahasa kerennya ‘meratifikasi’) sebuah MoU yang menyatakan bahwa kue itu enak dan harus dimakan oleh semua mahasiswa baru 2008 di kampus ini, tanpa kecuali. Respon kemudian sudah pasti, tentu saja si BO/BSO tidak mau begitu saja meratifikasi MoU itu. Bagaimana mau meratifikasi, kalau si BO/BSO itu belum tahu bahan-bahan, proses membuat, sampai rasa dari kue OPK itu. Belum lagi kokinya baru, yang tentunya masih harus selalu dipertanyakan kemampuannya membuat kue OPK yang enak.
Siapa tahu rasanya pahit dan tidak enak sehingga banyak konsumen yang pingsan atau bahkan mati keracunan (naudzubillah) ketika makan kue itu. Maka, teman-teman sejawat itu memilih untuk belum mau meratifikasinya.
Dan lagi-lagi tidak sampai di situ. Si koki mengancam akan memberikan sanksi yang berat kalau ada mahasiswa baru yang coba-coba tidak mau memakan itu kue (ex: si maba tidak boleh memperoleh rekomendasi untuk mendapatkan beasiswa dari ‘si pembuat resep’ selama di FEUI, tidak boleh ikut seluruh organisasi + kepanitiaan yang diselenggarakan si koki dan rekan sejawatnya itu selama si mahasiswa itu di FEUI).
***
Kasihan benar mahasiswa baru itu. Belum selesai dihadang kawat berduri bernama BOP (yang katanya) berkeadilan, mereka disuguhi kue yang dipaksakan kepada mereka untuk dimakan. Katanya sih enak, kata kokinya dan kata si pembuat resep.
Tapi sekali lagi, yang memberi nilai enak atau tidaknya kue itu, tentunya bukan si koki, tapi si konsumen, si mahasiswa baru itu. Dan karena itu, tidaklah salah jika mereka seharusnya diberi hak untuk tidak ikut mencicipi kue itu atau minimal diberi kebebasan untuk tidak menikmati nikmatnya kue tersebut (walaupun kuenya enak) dan terhindar dari sanksi ketika tidak memakannya.
****
Jangan-jangan kue usang!
Kalau cara ini tetap dipaksakan (model punishment), maka saya akan semakin yakin dengan dugaan bahwa kue yang dijajakan adalah kue usang. Kue yang sama seperti kue-kue tahun lalu, dan bahkan sama seperti ketika penulis menjadi mahasiswa baru.
Kue usang ini kurang laku dijajakan dan hanya laku dibicarakan. Makanya, kemudian dilakukan berbagai trik, sulap-selip sana sini, sampai janji-janji manis di depan teman sejawat. “Udah, kue ini model baru kok. Jadi, pasti dijamin enak!”. “Ini juga demi kebaikan si maba… bla..bla…bla…”. “Mereka harus mencicipi kue ini, wajib malah, kalau nggak, bakal kena … ini itu, bla…bla…bla”
Kemudian, agar tidak sekedar dongeng tentang kue, saya mencoba memberikan sedikit masukan di akhirnya. Kalau memang bukan kue usang, mungkin ada baiknya teman-teman sekalian (para pembuat kue) mencoba menjajakan dengan semangat yang baru. Semangat pasar bebas, seperti yang sudah diajarkan di kampus kita ini berulang-ulang, bukan? Berikan saja kebebasan kepada mahasiswa baru untuk menentukan pilihannya, ikut memakan kue itu atau tidak –tanpa kemudian memberikan banyak intervensi berupa sanksi-.
Buktikan saja dengan kualitas dan rasa kue OPK yang begitu manis dan menggoyang lidah. Benahi kualitasnya. Perbaiki mental pembuat kuenya (agar tidak lagi menjejalkan kue setengah jongkok). Alih-alih menjajakan hal tersebut, alangkah baiknya memberikan prosesi yang lebih bermanfaat (pembuatan proposal PKM, KKTM, essai ilmiah, dll) kepada para mahasiswa baru. Tentunya juga dengan selalu mengecek bahwa karya-karya yang disajikan adalah karya orisinal. Orisinalitas yang memuliakan si penulis (yang mudah-mudahan ke depan bisa dicontoh eksekutif dan beberapa anggota legislatif untuk pemilu mendatang di kampus ini)
Dengan begitu, tak perlu lagi mekanisme punishment yang tidak rasional itu. Bukankah kita sekarang hidup di era reformasi, di mana kebebasan menjadi nafasnya dan tirai tirani telah tersibak lama? Pun, saya kira para calon konsumen kita itu tidak cukup b***h untuk mencicipi kue itu jika memang sudah terasa enaknya. Sampai kemudian, ada seorang konsumen (yang tidak ikut mencicipi kue itu) berkata kepada konsumen lain (yang telah ikut mencicipi kue itu).
“Ah, gue bener-bener nyesel seumur hidup gak ikutan OPK!”
Begitu saya kira lebih bijak. Ketimbang mengurusi permasalahan ratifikasi yang terus berulang. Dan kalaupun jadi, ratifikasi itu (saya kira) tinggal tandatangan di atas kertas, tanpa pernah (lagi) ada realisasi yang jelas.
// zoelzul // 05-422 // -tulisan ini merupakan pendapat pribadi-
Pagi menjelang siang di hari Jumat, tepatnya menjelang salat Jum’at adalah waktu yang kami berdua sukai. Itulah waktu yang tepat bagi kami untuk bercerita. Tentang sekolah, guru-guru, dan tentu saja tentang OSIS, organisasi intra sekolah di mana kami berdua mulai mengenal dekat satu sama lain.
Tetapi tetap saja, satu tema yang selalu kami bahas di perjumpaan itu adalah tentang rencana hidup kami. Ya, lebih tepatnya tentang mimpi. Karena kami hampir tak pernah mendefinisikan jalan untuk mencapai rencana itu. Mimpi dua orang murid kelas 2, SMP Negeri 2 Barbas. Sekolah Menengah Pertama terbaik di kota kami.
“Aku heran sama Pak Yogi. Sebagai pembina OSIS, seharusnya dia membela usulan kegiatan yang kita ajukan. Pengajian mingguan dan olahraga rutin tiap bulan menurutku bukan suatu kegiatan yang terlalu muluk.,” kata Fulan memulai pembicaraan rutin kami di selasar masjid Agung dekat sekolah kami.
“Menurutku, dua usulan kegiatan itu memang sangat mungkin untuk terlaksana,” kataku sambil mengerutkan dahi. Aku serius menanggapi perkataan Fulan.
“Ya sudahlah. Biar usulan itu disampaikan dulu ke Pak Sugara, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan kita yang galaknya minta ampun itu,” tambahku mengakhiri satu tema pembicaraan.
Maka, episode perbincangan berikutnya sudah bisa ditebak. Membincangkan rencana masa depan. Fulan hampir selalu menanyakan hal yang sama di setiap perbincangan rutin kami itu. Dan satu hal yang membuatku terkesan adalah aku tidak pernah merasa bosan dengan tema ‘rencana masa depan’ yang selalu kami bicarakan. Aku merasa dia seorang penutur yang baik.
“Oh ya, Rul. Setelah lulus SMP ini, mau melanjutkan sekolah ke mana?”
“Kalau Amar, Amid, sama Adi itu sepertinya ingin melanjutkan sekolah ke SMA TN[1]”
“Kalau aku sendiri, sudah menetapkan hati untuk sekolah di SMAN 1 Barbas. Kalau kamu, Rul?”
“Aku mau melanjutkan sekolahku setelah SMA di fakultas kedokteran. Aku mau jadi dokter, Rul! Kamu Rul, apa cita-citamu?”
Aku terkadang hanya senyum-senyum sendiri mendengar ceracau pertanyaan dari Fulan. Beberapa pertanyaan yang kuanggap penting, kutanggapi sampai panjang lebar sampai menimbulkan debat kusir yang mengasyikkan. Sampai-sampai, penjaga sandal di selasar masjid mengingatkan kami, sebentar lagi adzan salat Jumat berkumandang. Lainnya, pertanyaan yang tidak kuanggap penting, biasanya kujawab singkat.
***
Aku, Ahmad Nasrul. Biasa dipanggil Arul. Ketua OSIS SMP Negeri 2 Barbas sekarang. Teman dekatku itu, Fulan Azzami. Wakil Ketua II OSIS yang membawahi seksi I, seksi kerohanian Islam, karena di sekolahku kebetulan semua siswanya adalah muslim.
Kami berdua ditambah tiga orang teman yang lain, Amar, Amid, dan Adi adalah orang-orang yang dianggap ‘pintar’ oleh lingkungan di mana kami bersekolah. Tidak adil sebenarnya, karena cap “pintar” yang ditujukan kepada kami hanyalah karena satu capaian yang kami raih. Kami berlima selalu merebut ranking pertama di masing-masing kelas tempat kami belajar. Aku di kelas 2E. Amar, Amid, Adi, dan Fulan di kelas 2A, B, D, dan C. Karena cap “pintar” itu juga, kami berlima diserahi amanah ini sekarang, menjadi pengurus inti OSIS SMPN 2 Barbas.
***
“Permisi, Pak! Mau memanggil Nasrul. Saya disuruh Pak Sugara. Nasrul diminta menemui Beliau di kelas 3E sekarang,” pinta Kak Ida, kakak kelasku yang juga mantan ketua OSIS pada guru IPS yang mengajar di kelasku. Suara kak Ida yang lembut itu sudah sangat familiar di telingaku.
Kelanjutannya, aku sudah bisa menduga. Pasti ada masalah dari kegiatan OSIS yang nekat kami adakan. Pengajian mingguan itu, yang diadakan seksi I, seksi kerohanian Islam, di musala sekolah kami kemarin sore.
Benarlah yang kuduga. Pak Sugara, wakil kepada sekolah bidang kesiswaan itu marah besar.
“Kamu ini tahu tidak, Rul! Coba bayangkan kalau aliran kayak Muhammadiyah, NU, Persis itu masuk sekolah kita lewat pengajianmu itu. Terus, mau jadi apa organisasi sekolah kita ini. Organisasi intra sekolah negeri ya harus tetap netral! Jangan bawa-bawa embel-embel dari luar. Kalau kita buka satu saja misalnya, untuk Muhammadiyah, lalu NU juga masuk, Persis juga. Nanti sekolah kita lama-lama dimasuki banyak sekali aliran. Hentikan saja pengajian itu!”
“Ya, pak!” itulah kata yang bisa aku lontarkan saat itu. Aku hanya bisa menjawab pelan dengan kepala tertunduk.
“Fulan! Amar! Amid! Adi!” teriakku dalam hati. Ya, aku harus secepatnya bertemu teman-teman pengurus OSIS yang lain. Tak mau aku kalau harus mempertanggungjawabkan hal ini sendirian. Aku tak berani.
***
Esok paginya, pukul 5.30, kami berlima mengadakan rapat mendadak di ruang OSIS. Aku, Amid, Adi, Amar, dan tentu saja, Fulan. Suasana rapat kami ketika itu persis seperti para komando perwira militer yang ingin melakukan kudeta terhadap presiden. Para peserta rapat itu terlihat intelek. Gaya dan ucapan kami pada rapat itu lebih mirip politisi ketimbang pelajar SMP. Maklum, selain di OSIS, kami berlima juga aktif di organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia) Kota Barbas, di mana kami menemukan cara berdiskusi, rapat, dan menyampaikan pendapat dengan baik.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Masak membuat pengajian di sekolah saja tidak dibolehkan,” kataku setelah masuk ke bagian inti rapat.
Fulan menguatkan, “Saya kira isi dari pengajian yang telah kita laksanakan itu tidak ada unsur mengajak untuk ikut dalam ormas tertentu. Sama sekali tidak. Kita hanya mengundang teman-teman kita yang berminat untuk mempelajari Islam lebih dalam. Kita hanya menyediakan wadahnya. Tidak lebih.”
“Saya juga takut, kalau kegiatan pengajian seperti ini saja sudah dilarang, lain waktu mungkin kegiatan perkemahan di luar sekolah juga akan dilarang. Alasannya bisa dibuat-buatlah. Misalnya, sekolah tidak mau disalahkan kalau ada siswa yang kehilangan barang-barangnya dan orang tuanya menuntut ke sekolah,” sambung Adi, sekretaris umum OSIS yang juga ketua ekstra kurikuler Pramuka.
“Lama kelamaan, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah kita akan mati. Banyak siswa yang tidak berminat. Membosankan. Hanya di dalam sekolah dan lingkupnya terbatas. Lalu, tinggallah kegiatan belajar mengajar alias KBM alias kelas belajar menerus,” tambah Amar yang juga wakil ketua I OSIS dengan geram.
“Sepakat! Kita akan menemui Pak Sugara bersama-sama pulang sekolah nanti. Kita kumpul dulu di kelasku, yang paling dekat dengan ruang guru. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh!” kataku menyimpulkan sekaligus mengakhiri rapat mendadak kami pagi itu.
***
Sesuai rencana, kami berlima menghadap Pak Sugara seusai pulang sekolah. Amar yang maju pertama kali, melangkahkan kaki ke meja Pak Sugara, yang dekat dengan pintu masuk ruang guru.
“Assalamualaikum,” Amar berusaha tampak ramah.
“Ada apa kalian berlima seperti itu? Seperti mau demo saja!” Pak Sugara menanggapi dengan perkataan yang ketus.
Fulan mengambil alih pembicaraan, “Begini, Pak. Terus terang, kami tidak setuju dengan pendapat Bapak yang menolak kegiatan yang kami laksanakan, yaitu pengajian mingguan di musala sekolah. Kami rasa apa yang kami lakukan itu tak lebih dari tanggung jawab kami sebagai pengurus OSIS untuk memfasilitasi kegiatan teman-teman kami di sekolah ini. Terutama yang tertarik mempelajari Islam lebih dekat.”
“O, jadi kalian ingin melawan saya! Melawan keputusan saya! Saya ini sudah lama jadi guru di sini. Sudah 25 tahun. Sebelum kamu-kamu ini lahir, saya sudah mengajar di sini. Dan selama itu, tidak ada yang berani melawan keputusan saya ketika memutuskan sesuatu”
Giliranku sebagai ketua OSIS berpendapat untuk meredakan ketegangan,“Bukan itu maksud kami, Pak. Kami hanya ingin kegiatan di sekolah kami semarak. Tidak hanya dari sisi akademis saja kita dianggap sebagai sekolah favorit di kota ini.”
“Sekali lagi saya katakan. Saya ini mengajar di sini sudah lama. Saya tahu, bahwa murid-murid yang sukses itu, ya murid-murid yang tekun dan rajin belajar. Tidak perlu pakai acara pengajian seperti itu segala….”
“Belajar…belajar….! Ya kalian sekolah ini untuk belajar. Bukan yang lain. Kalau mau bikin kegiatan, apalagi pengajian, ya di rumah saja sana! Di kampungmu itu, Rul! Di Kluwut[2] saja sana!”
Aku tersinggung bukan main. Desa tempat kelahiranku dilecehkannya. Memang apa yang salah dengan Desa Kluwut. Lalu, apa salah jika aku kemudian dilahirkan di sana.
Namun, belum sempat aku membalas komentar Pak Sugara yang menyakitkan itu, Fulan lebih cepat bersuara.
“Kalau seperti ini yang Pak Sugara minta, lebih baik kita mundur saja dari amanah pengurus OSIS ini. Kami merasa malu tidak bisa melakukan kegiatan apa-apa di kepengurusan OSIS ini.”
Belum tiga detik Fulan mengakhiri kalimatnya….
Plak…Plak….Plak! Tangan kekar Pak Sugara bergerak dengan sangat cepat menyentuh muka Fulan.
Aku kebingungan di samping Fulan. Aku menengok ke belakang. Sepi.
Sial, teman-temanku sudah lebih dulu mengambil langkah mundur. Bergegas menyelamatkan diri ke belakang. Tinggal aku dan Fulan tertinggal di ruang guru. Guru-guru lain yang ada di ruang itu seakan membisu. Hanya bisa melihat, tanpa bereaksi sedikitpun. Aku heran.
Sekejap itu, aku mengait lengan Fulan, menariknya keras dan membawanya keluar dari ruang guru menuju tempat parkir sepeda.
“Maaf! Maaf!” Amar, Adi dan Amid serentak mengucapkan kata itu. Rupanya mereka menunggui kami di ruang sepeda.
“Sst! Bicara apa kalian. Ayo bantu kami!” teriakku.
Wajah Fulan terlihat sangat kuyu. Pipinya biru. Lebam. Matanya basah. Ingin menangis tampaknya, tetapi seolah tertahan. Kukira dia malu.
Kami berlima menuju ke rumah Amar. Rumah paling dekat dari sekolah di antara rumah kami berlima.
Lebam pipi Fulan dibersihkan Adi. Lalu, kami salat dhuhur berjamaah di teras rumah Amar yang sangat luas dan bersih. Aku imamnya. Fulan dan Adi menyusul menjadi makmum masbuk[3] di dua rakaat terakhir salat dhuhur berjamaah kami.
Usai salat, kami berlima berbincang santai. Seolah melupakan kejadian yang baru saja kami alami. Sambil berbincang, Mbok Imah, pembantu di rumah Amar menyiapkan nasi dengan lauk pauk lengkap untuk kami berlima. Kebetulan hari ini hari Sabtu. Jadwal rutin informal kami untuk berkunjung ke rumah Amar untuk makan, mengobrol, dan main PlayStation bersama.
Aku menyeletuk membuka pembicaraan,“Kita bubarkan saja OSIS sekolah kita”
“Sepakat!” seru Amar tegas.
“Sebentar… sebentar….,” Amid yang kocak, berbicara dengan telapak tangannya menghadap ke depan. Persis orang yang ingin memberhentikan sepeda yang lewat di depannya.
Tiba-tiba Amid berseru. Suara Amid menggelegar sambil mengacungkan kepalan tangannya ke atas. Mirip seorang pejuang revolusi meneriakkan kata merdeka di tahun ’45.
“Aku sangat sepakat!!”
Kami semua terkekeh. Tak terkecuali Fulan.
Sampai detik ini, kami tetap merasa, masa SMP kami tak tampak berbeda dari siswa SMP kebanyakan di negeri ini.
Kukusan Teknik
26/3/2008 15:02 – 28/3/2008 14:35
[1] SMA TN = Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara. Sebuah SMA unggulan, berbeasiswa, dan dididik dengan gaya semi-militer yang berada di Kota Magelang, Jawa Tengah.
[2]Kluwut adalah nama sebuah desa terpencil di daerah Barbas, Jawa Tengah. Di desa itu, lebih dari 50% penduduknya tidak mengeyam pendidikan formal di bangku sekolah.
[3] Makmum yang terlambat hitungan rakaatnya dari imam
** Penulis cerita pendek ini sekarang sedang berusaha mewujudkan salah satu mimpinya: menjadi penulis novel
Ya, ini adalah beberapa pengingatan dari waktu yang bernama lalu (baca: masa lalu)
Sekedar sebuah pengingatan bahwa hidup haruslah bergelombang, terombang-ambing, lalu kembali tenang…
Selamat jalan masa lalu! kami akan selalu mengenangmu, dan menjadikanmu pelajaran, untuk kami dan orang-orang yang datang kemudian…
Masa lalu juga fragmen. Potret diri kita, yang kita akan pertanggungjawabkan kelak dihadapan-Nya.
Jadi inget, kata-kata di theme song-nya doraemon:
“Kita hidup di bumi ini, hari ini, esok, dan seterusnya…”
Kami menamainya sebagai:
kumpulan episode Kaf-Ha-Ya-‘Ain-Shod *
Episode kaf – sebuah pengingatan
“Hanya orang yang tegar di jalan dakwah yang akan merasakan kenikmatan perjuangan dan mendapatkan kemuliaan. Semoga Allah menghunuskan kesabaran ke rongga dada kita dan menyuburkan hati kita dengan limpahan iman. Kapan bergerak lagi?”
-teriring ucapan saya kepada pengirim pesan ini ‘v’: afwan, kalau amanah ini tidak sanggup saya emban maksimal. terlalu banyak hal yang membuat saya merasa bingung untuk mengoptimalkan amanah itu (disorientasi bahasa kerennya). mudah-mudahan ini tidak membuat kecewa. percayalah, kalau saya tidak sanggup menjalankan amanah, biarlah Allah SWT menggantinya dengan seseorang yang lebih baik lagi-
10 maret 2007, 21.00.40
“Amanah adalah sesuatu yang berat. Yang membuatnya berat adalah pertanggungjawabannya di hadapan Allah dan kerugian yang ditanggung orang sekitar karena kita melalaikan hak mereka. Gimana amanah …. kita? Afwan kalau selama ini ana mendzalimi atau berbuat salah sama antum. Mari hidupkan … kembali”
-tidak ada yang salah dengan bintang, yang salah adalah siang yang terlalu terang untuk sang bintang. pola komunikasi itu kuncinya. saya merasa tidak dapat membangun pola komunikasi yang baik dengan semuanya (ketika itu), termasuk pengirim pesan tsb-
Episode ha – sebongkah integritas
Hanif, assalam. Aku stress banget nich, gak ada yang bantuin aku dan aku gak bisa trace back data-data penerimaan yang … juta itu sendirian. … gak bisa dihubungin, aku pengen banget selesai besok. Gimana ya hanif? Maap kalau aku cengeng, tapi aku bener-bener butuh bantuan orang ini. 07.18 pagi 2 september 07
-sambutan pertama ketika menerima sms ini: ini orang “hongkong” [mengutip bahasa ‘dede’] banget sich. tapi sesaat setelah itu bisa langsung berfikir rasional, langsung telepon beberapa teman buat bantuin dan jawabannya gak bisa semua… ting! gubrak… in the end, sebagai seseorang yang merasa sangat bertanggung jawab terhadap hal tersebut, akhirnya dengan ber”senang” hati datang ke sana, menawarkan diri, apa yang bisa di bantuin. comment: orang seperti ini cuma butuh diyakinkan n di…… (,sebenarnya), untuk melakukan sesuatu-
Episode ya – sepotong pengakuan
Assalam, nif. Syukron atas undangannya. Antum sudah berhasil menjadi pemimpin yang sukses, yang mampu memanage 2 amanah dengan balance. DKFE pasti selalu butuh dengan orang-orang seperti antum”
25/9/07 20.18.30
-hmm… baru sekali ini orang seperti dia memuji-muji dan sekali memuji berlebihan lagi. tapi baguslah, paling tidak masih punya sisi hati untuk memuji orang lain… hehe. no offense, n gue suka gaya loe (yang di luar pakem itu)!-
Episode ‘ain – di ufuk tantangan
“Orientasi _ _ _ _ apa? Konkret external apa? Lantas kalau internal apa yang bisa diperbuat _ _ _ _ kalau ada ‘saudara’nya yang ip-nya rendah? …”
6 nov dua ribu tuju 18.57
“politik adalah kereta untuk sampai tujuan. gerbongnya adalah …., …., relnya adalah …….., masinisnya adalah keimanan. Jangan sampai kita mogok karena kita. keep fight” 24.12.07
-sungguh menampar kata-katanya, tapi memang seperti itulah kenyataannya. kita tidak bisa berbuat apa-apa, selain merencanakan program yang hanya bergerak di lingkaran obat nyamuk yang terus berputar makin ke dalam. teman diskusi yang luar biasa, mulai dari islamic economics sampai political in economy. sekarang, ia sedang membuktikan sendiri, bahwa peran menentukan kontribusi dan apa yang akan dikontribusikan. semangat teman! anda orang hebat! koleris mutlak yang mungkin akan jarang ditemui kecuali di dunia lain (mungkin).
Episode shad – ceracau keputusan
tiga belas januari nol delapan
“perubahan yang dipompa oleh raihan jabatan akan berhenti seiring dengan tercapainya jabatan itu. pemimpin yang menjadikan uang sebagai motivasi, akan berhenti melakukan perubahan saat uang sudah digenggam. Para pemimpin yang menjadikan ‘keinginan melakukan kebaikan’ sebagai motivasi, takkan berhenti menabur kebaikan sebab kebaikan tak terbatas dan tak pernah habis. tetap istiqomah!”
-dahsyat lu, prendz! tapi sayang, kita mungkin belum ditakdirkan untuk bekerja dalam satu tim di masa ini, mungkin nanti… (pengulangan masa lalu itu saya yakin akan terjadi) setelah semuanya selesai dan kita akan banyak berceracau tentang hitam, merah, dan biru jalan ini…-
“well, ok! Just prove it, hanif! Then we’ll see it whether you really a great leader or not!”
13/1/08
-ini tantangan, dan saya harus menghadapinya! ujar saya ketika itu. selanjutnya: keren juga orang kayak gini. cukup menimbang dengan berani atau tidak, lalu kerjakan atau tinggalkan. tapi sebenarnya saya punya prinsip: hidup bukan sekedar berkata ‘katakan hitam adalah hitam, katakana putih adalah putih’, ada kebijaksanaan yang kita cari dan ada negoisasi yang kita harus sepakati (hehe, kata-katanya orang yang phlegmatis banget. Ya kan?). begitu seharusnya kan ya? (frasa ‘kan ya?’ meniru gaya felix siauw)-
“saya percaya hanif punya kapasitas sebagai pemimpin walaupun bukan itu tempatnya, semoga semua bisa diambil hikmahnya, tetap semangat ya untuk _ – _ – _ – _ – _ – _ di tempat ini dan di masa depan” 7/2/08.21:18
-gaya orang melankolis (saya kira), menyentuh dan berusaha memberi arti. bagus! cukup menghibur ketika itu, terlebih dalam keadaan tertekan (yang amat sangat) di momentum itu-
akhirnya, kita akan menyadari, sampai di sebuah titik yang disebut dengan instrospeksi. untuk terbang, melayang, dan mungkin takkan hinggap lagi.
sampai nanti, entah…
ketika kita nantinya menjadi “diri sendiri”
menjadi dirimu sendiri, sebaik-baik dirimu
-quote from file ‘end.doc’-
* inspired by surat maryam, yang menjelaskan fragmen kehidupan orang-orang sholeh
Apa kabar adek-adekku di sman 1 tegal? Mudah-mudahan baik-baik saja ya. Semoga Allah SWT selalu memberikan limpahan kasih sayangnya untuk adek-adek kami tercinta. Semoga adek-adekku selalu dimudahkan oleh-Nya dalam beraktifitas di sekolah, untuk belajar dan mengaktualisasikan diri lewat organisasi. Dan jangan lupa untuk selalu menjadi bagian dari orang-orang yang menyeru pada kebenaran (berdakwah, bahasa kerennya), paling tidak sekedar mengingatkan teman-teman di sekitarnya untuk selalu belajar tentang Islam dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya.
Kalau adek-adek, tentu sedang penuh dengan aktvitas ya sekarang? Pasti sibuk ya? Belajar, bantu orang tua, ngerjain PR, belum lagi tugas-tugas lainnya. Oya, belum lagi sibuk ngurusin organisasinya -terutama buat aktivis sekolah-, OSIS, rohis, buletin INSANI, atau organisasi yang lain di sekolah. Beberapa teman juga mungkin sibuk dengan persiapan olimpiade mapel, lomba ini, itu, dll. Belum lagi ada yang ikut bimbingan belajar, les ini, les itu buat ngejar standar UN yang makin tinggi aja. Pasti capek banget ya?
Tapi, percayalah adek-adekku, kami dulu juga seperti kalian. Banyak tugas dan PR dari guru yang harus dikerjakan. Belum lagi tuntutan organisasi yang menuntut kami berkorban ekstra: tenaga, waktu, dan pikiran. Belum kepanitiaan ini itu yang bikin kami juga terkadang banyak meninggalkan pelajaran.
Oya, kabar kegiatan keislaman di sekolah sekarang? Dulu ada pengajian akhir pekan, setiap sabtu siang, Cermin Hati atau cerhat namanya? Masih diadakan rutin kan sekarang? Dulu juga, di akhir pekan ikhwan-ikhwan pengurus Rohis dan OSIS sering mabit (malam bina iman dan takwa / menginap) di musala Baitul ‘Ilmi, sekarang kakak yakin, tentu lebih sering bukan? Paginya, sehabis mabit, kami biasa maen bola di lapangan sekolah atau balap lari ke PAI. Masih adakah? Dan ketika kami sudah beranjak kelas 3, musala baitul ilmi di pagi hari biasanya bertambah ramai. Temen-temen kami di kelas 3, banyak yang ingin memperbanyak amalan sunnahnya, salat dhuha di musala baitul ilmi. Supaya dimudahkan kata mereka, dalam belajar untuk lulus ujian. Sekarang, masih seperti itu ga, dek?
Dan, Alhamdulillah, semua masa itu telah kami lalui dengan baik. Kami tentunya selalu akan terkenang dengan masa-masa itu. Mengejar prestasi akademik, berorganisasi, dan selalu berusaha menjaga ibadah kepada-Nya.
Untuk adek-adekku, insya Allah, kami –selaku kakak-kakak yang telah lebih dulu melalui semua itu– selalu yakin, adek-adek tentunya bisa menjalankan semuanya dengan lebih baik lagi. Amien.
Oya, kakak juga punya beberapa tips singkat untuk adek-adek untuk dapat menjalani aktivitas dengan baik. Rumusnya gampang diinget lho? SOT, Semangat-Optimis-Tahu tujuan yang ingin dicapai. Dalam menjalani aktifitas, kita mesti ber-semangat. Semangat memberikan kita motivasi untuk selalu berbuat terbaik dan selalu antusias dalam menjalani setiap aktivitas.
Selanjutnya, kita juga harus optimis dalam menjalani setiap aktivitas. Optimis akan membentuk karakter diri yang tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan. Orang optimis akan selalu yakin dan berpandangan positif terhadap kesulitan, seberapapun beratnya. Bukankah dalam Qur’an, Allah berfirman, “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan yang mudah dan memberikan rizki dari arah-arah yang tidak disangka-sangka”
Tahu tujuan yang dicapai memberikan kita gambaran, apa sebenarnya yang ingin kita tuju dari aktivitas yang sedang kita lakukan. Semua aktivitas yang kita lakukan, niatkan untuk Allah semata.
Terakhir, kakak yakin jalan yang adek-adek miliki masih panjang. Maka, manfaatkan masa muda dengan sebaik-baiknya dan jangan lupa siapkan masa depanmu dari sekarang dengan bercita-cita sebaik mungkin.
Kelak, adek-adek harus buktikan, bahwa seorang muslim –terutama anak rohis, misalnya– bisa jadi orang sukses, tak hanya dunia, tapi juga akhirat. Ok, setuju kan sama pesan kakak! Tetap semangat ya, dek!
aku terbangun ketika mimpiku belum usai,
maka aku melangkah untuk mewujudkannya…
Cirebon Ekspress, Tegal-Jakarta
21 Mei 2008, 06.35 – 07.35
Untuk buletin INSANI spesial for alumni:
(Notes: ini bagus buat pembuka)
—credit: rumus SOT from eric m naris, ketua rohis sma 8 (th berapa ga tau tuch), 
“Did you know that many people brave to die at war?
But just a few people who brave to life at hardness! Even
(Innallah ma’ashobiriin)”
Entah pesan ini dari siapa. Sampai saat ini pun, kami pun tak sanggup untuk menemukan siapa pengirimnya. Tapi itu bukan hal yang esensi. Terlebih esensi adalah isi dari pesan ini untuk kami.
Kami sadar, ada banyak hal yang membuat kami kemudian merasa “tak mampu” untuk memikulnya. Bukan, bukan karena kami tak sadar akan urgensinya. Tapi lebih kepada bagaimana mempertanggungjawabkan sebuah amanah yang kami pun bahkan merasa tidak sanggup menanggungnya.
Kami takut, justru di tangan kami, titik balik itu akan ada, “mina an-nuuri illa adz-dzuumatil”. Tapi bukan hanya dengan argument dalil naqli itu saja kami menimbang. Kami juga telah menimbang-nimbang berbagai macam konsekuensi yang sesuai dengan sunnatullahnya di masa datang nanti. Dengan sejumlah ‘prajurit siap tempur’ kami, yang tidak terlatih dengan baik, akankah kita memenangkan pertarungan di hari yang telah lalu itu?
Ke depan, kami berharap titik balik itu ada. Kalaupun bukan generasi kami yang harus membalikkan ‘itu’, kami sangat berharap sekali pada penciptaan ‘generasi mendatang’ yang lebih baik. Bukan sekedar berharap tentunya, kami sedang mempersiapkannya.
Persiapan itu sudah kami rancang sekarang. Dengan detail, hati-hati, dan kesadaran yang tinggi. Kami akan coba bangunkan prajurit-prajurit itu di akhir malam. Kami akan tempa mereka dengan sejumlah peralatan perang yang paling mutakhir. Terakhir, kami akan susun sebuah unit khusus intelijen yang rapi dan tak kan mudah tersusupi. Cerdas, sistemik, dan kemudian menggetarkan!
Di akhir tahun yang senyap-senyap, lalu terbangunkanlah kesadaran jiwa yang lalai akan resolusi yang telah dibuatnya, kami siap menorehkan tinta baru itu lagi. Sebuah kemenangan yang akan kami pertahankan untuk tiada putus lagi.
Selamanya… dalam masa keabadian zaman.
(Ini janji kami, maka perkenankan kami menunaikannya!)
-apaan sich nif, lagi nulis dongeng kan? mm… you’re right-
Kalau yang seperti itu sich (kompetisi mahasiswa berprestasi-pen) artifisial bro!
Yang namanya prestasi itu ya pengabdian dan kontribusi…
(disarikan dari pemikiran Guru Bangsa “The Arista Institute”)
Dua pemandangan yang berbeda di malam itu. Di satu sisi, seseorang memberikan definisi tentang prestasi kepadaku berupa pengabdian dan kontribusi tanpa henti, plus dengan pengorbanan. Dia sampaikan itu lewat diskusi denganku menjelang isya di kamarnya yang penuh penuh dengan buku plus alunan musik jazz. Sisi akademiknya ‘begitu hancur’ karena kelulusannya mungkin akan sampai batas akhir paling lama seorang mahasiswa S1 reguler diperkenankan kuliah di kampusku. Namun, sejarahnya sebagai seorang ketua di lembaga publik eksekutif di kampus ini begitu menyejarah.
Di lain sisi, seorang yang lain memberikan gambaran mengenai prestasi kepadaku lewat foto di hp-nya. HP yang baru ia perbarui beberapa waktu yang lalu, setelah dia mendapat gelar sarjana ekonominya. Foto itu bergambar sebuah piagam bertuliskan “Juara II Mapres” (mapres=mahasiswa berprestasi).
Aku terbangun, sadar, dan kemudian merenung. Renungan yang begitu lama sampai aku mengacuhkan berkali-kalinya panggilan membagi ilmu. Sampai aku kemudian mencoba merangkai rangkaian definisi prestasi yang menurutku bisa membuat kata itu jauh lebih berarti.
Rangkaian itu kemudian kutelisik dalam beberapa buku yang pernah kubaca: Menjadi manusia pembelajar oleh Andreas Harefa, Menjadi Muslim Prestatif oleh Aa Gym, Novel-novel best seller Habiburrahman El-Shirazy yaitu Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih beserta ceramahnya dalam dua kali bedah buku di Aula Student Centre kampus kami.
Dalam buku yang pertama, aku mengambil intisari bahwa siapapun bisa belajar dan kemudian berprestasi, tanpa bantuan bangku sekolah yang menyiksa. Bahwa belajar bisa terus dilakukan di universitas kehidupan bernama hidup yang kita alami itu sendiri.
Dalam buku yang kedua, aku dapat mengerti bahwa sebagai seorang muslim, berprestasi adalah dengan mengerjakan apa yang memang Allah perintahkan kepada kita. Kerjakan itu dengan sebaik-baiknya dan kemudian optimalkan potensi yang ada pada diri kita. Itulah salah satu esensi kesyukuran.
Dalam buku yang ketiga sekaligus ceramahnya, aku pun menemukan dua hal tentang prestasi yang lebih beragam lagi. Fahri itu, bisa lulus S1 dan kemudian S2 dengan predikat sangat baik, itu prestasi. Azzam juga. Ia bisa menamatkan kuliahnya walaupun tidak tepat waktu, tetapi mampu membiayai adik-adiknya di Indonesia sampai semuanya bisa bersekolah, itu juga prestasi. Dalam ceramahnya juga ditambahkan, “Yang penting itu berani hidup! Ada seorang mahasiswa di Solo yang gak mau lulus-lulus. Ketika ditanya kenapa dia menjawab seperti ini: kalau mau lulus mau jadi apa? Cari pekerjaan sulit, wirausaha gak ada modal. Mendingan jadi mahasiswa, masih punya status.”
Kembali ke definisi prestasi. Aku mencoba menarik benang merah seperti ini. Prestasi itu (barangkali) adalah sebuah capaian yang menurut diri itu berarti. Tak perlu harus dikuantifikasi, karena tidak semuanya mesti tercatat dalam lembaran ketikan prestasi di cv. Tak perlu pula dibanggakan, karena sejatinya semua hanya anugerah dari Tuhan, dan kita hanya objek yang sedang ditakdirkan menjalaninya.
Namun, bukan berarti kita harus menjadi orang ‘phlegmatic’, yang hanya bisa pasrah dan menunggu ‘keberuntungan zaman’. Tetaplah mendayung karena kita sekarang memang sedang hidup di samudra kehidupan. Atau mengutip kata-kata puitis dalam majalah Economica “Dayung terus sampanmu! Hingga langit kelam berganti biru, sampai bertemu pulau harapan!”
Dan bukan pula kita menjadi orang yang oportunis. Mengklaim segalanya prestasi kita dan berusaha mencapai sebanyak mungkin prestasi lewat unethical attitude. Meraih sebanyak mungkin kursi-kursi formal dengan meminimisasi pengorbanannya. Duh, alangkah tidak kontributifnya kita.
Kemudian, mengutip dari artikel ‘since good leaders are not enough’ di website (bukannya seharusnya paham dengan makna ini, kan?) tentang bagaimana seharusnya seseorang itu mencapai prestasinya “Collins menggambarkan kombinasi yang seolah-olah paradoksal antara kegigihan profesional (professional will) dengan kerendahan hati personal (personal humility)”.
Ya, di satu sisi kita berjuang sebaik mungkin untuk apa pun (dengan segenap tumpahan pikiran, kerja keras, dan determinasi yang begitu tinggi) yang kita ingin capai. Dengan bagaimanapun caranya, selama masih dalam rule of the game (of our life) yang kita jadikan pegangan.
Di sisi lain, kita harus mengakui, bahwa capaian itu bukan wilayah kita. Maka tak perlu ada rasa kecewa. Yang seharusnya ada adalah rasa malu, bahwa potensi ini belum sepenuhnya keluar untuk sebuah amal yang nyata dalam hidup. Tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain di sekitar kita, tetangga kita, kampung kita, desa kita, dan umat kita.
Terakhir, tetaplah dalam track orang yang selalu berorientasi pada prestasi:
“Alladzii khalaqal mauta wal hayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala”
-yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya dia menguji kamu,
siapa di antara kamu yang paling baik amalnya-
(Q.S.67:2)
-for my brother-
Judul di atas adalah judul PKMM tim kami yang kemarin, alhamdulillah, diumumkan sebagai salah satu proposal yang diterima oleh DIKTI. Terimakasih pada Hazlinda yg dengan semangat 45 memberi tahuku bahwa pengumuman PKM telah terbit
Lahirnya Spirit MAN!![]()
![]()
![]()
Spirit MAN! asal kata dari Spirit = “Sekolah PerakItan kompuTer Insan Terpadu” dan MAN! = “Mencerdaskan Anak banNgsa”. Sebuah nama dengan gambaran yang penuh SEMANGAT, penuh HAMASAH kata orang Arab, mungkin orang-orang Cina akan bilang CHAYOO!, atau teriakan GANBATE! yang akan muncul dari lisan orang Jepang. Dan yang tidak kalah keren, “SEMANGAT REK!”.
Spirit MAN! lahir dari sebuah diskusi antara dua orang mahasiswa Fasilkom lintas angkatan, 2004 vs 2005. Di sebuah kamar Afif sang (bakal) ketua, karena memang dia yang paling tua dalam tim nantinya (karena saat itu tim belum terbentuk, nama Spirit MAN! pun belum lahir), Agung menceritakan idenya. Ide tentang bagaimana ilmu yang telah dipelajari bisa diaplikasikan oleh orang-orang yang tidak belajar komputer di bangku kuliah.
Ide Spirit MAN! bergulir dari lisan dua hamba Allah tersebut. Dan, sampailah mereka pada suatu kesepakatan ide: merealisasikan ide ini dengan mengajukannya sebagai salah satu proposal PKM 2008. Ide pun didetailkan. Mengajarkan bagaimana merakit, mereparasi, dan berdangang komputer beserta komponen-komponennya kepada sekelompok anak-anak jalanan di suatu rumah singgah. Yap,….itulah ide kami.
Menciptakan TIM
Langkah pertama adalah meciptakan tim (bukan team building). Afif mengusulkan Zulhanief, his twin brother but they’re not really twin karena selisih umurnya lebih dari 1 tahun. Alasannya : kita butuh meramaikan ide dengan memasukkan anak Akuntansi. Agar tidak monoton berhaluan boolean(kalau g 1 ya 0) melulu. Ide bagus menurutku. Aku mengajukan Ridho karena berdasarkan pengamlamanku bekerjasama dengannya di LKTM tahun lalu, Ridho orang yang bisa diandalkan. Pekerjaan yang dikerjakannya selesai. Itu hal penting buatku. Afif setuju. Nah, diajaklah dua orang tersebut untuk bergabung.
Tim PKM maksimal beranggotakan 5 orang. Kira-kira siapa lagi yang akan diajak?! Kami pun berdiskusi menentukan kriteria untuk “orang terakhir ini”. Dan kami langsung menyepakati satu kriteri : WANITA. Secara (alah…, ini artinya apaan sih???) tim Spirit MAN! keempatnya adalah lelaki maka Spirit MAN! butuh “sentuhan” wanita. Job role untuk Mbak/Teteh/Uni/None/Ibu yang satu ini lansung jelas : merapikan semua bentuk laporan, perencanaan, pembukuan, dan semua yg berbau kesekretariatan. Hmmm…., puas rasanya bakal terbebas dari tugas-tugas seperti itu.
“Perburuan” Wanita
Singkat saja (takut salah persepsi), ada beberapa nama. Dan sasaran pertama langsung menyatakan bersedia. Siapa?? Ya Hazlinda. Kan namanya sudah ada di atas!
Karunia Tak Terduga
Pembuatan proposal dimulai. Ya…,biasa-biasa saja. Tak perlu diceritaain. Sampai ada rasa syukur karena Allah telah mengarahkan hati untuk mengambil keputusan yang tepat: memasukkan Hanif kedalam tim. Dengan adanya Hanif, materi ide bertambah. Tidak hanya mengajarkan bagaimana merakit, mereparasi, dan menjual komputer tetapi juga membuat pembukuan yang rapi untuk bisnis yang bakal mereka (anak-anak target Spirit MAN!-red) dirikan. Coba kalau isinya Fasilkom semua. Yakin dah bakal susah.
Kenapa Spirit MAN!
Ide itu muncul sekilas saat aku ingat sama kelasku di SMA : Classix Spirit. Kelas penuh semangat, kenangan, dan persaudaraan. Maka nama Spirit pun disematkan. Baru setelah itu kami mencari enaknya kepanjangan dari Spirit tuh apaan(dah pada tau kan??!). Terus biar tambah semangat, kita tambahin kata MAN!(bukan diskriminasi gender lho…). Dan lagi, baru setelah itu mencari kata kepanjangan MAN!. Jadilah nama Spirit MAN! Nama, yang bagi kami, penuh semangat. Nama yang akan mengantarkan saudara-saudara kita untuk berilmu dan berjuang demi hidup mereka. Semoga….
Ini hanya sebuah kisah dibalik lahirnya proposal PKMM Spirit MAN! Aku yakin banyak kisah menarik di setiap kejadian. Coba ceritakanlah…
Lalu, bagaimana detail Proyek Spirit MAN! ini??
Insya Allah akan segera saya tulis supaya idenya bisa dimanfaatkan dan dikembangkan oleh banyak orang. Demi kesejahteraan umat.
“Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat di antara kalian.”(Al Hadist).
(dikutip dari weblognya agung firmansyah)